Gudang Ilmu Kesehatan ( Nurse born to Care and join to Curring)
Selasa, 05 Desember 2017
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366448712/Pathway-Gagal-Jantung-Hf-From-Askep-Dg-g3-Sistem-Kardio-Dan-Hematologi-Book
https://www.scribd.com/document/366448712/Pathway-Gagal-Jantung-Hf-From-Askep-Dg-g3-Sistem-Kardio-Dan-Hematologi-Book
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (NGT, Pemasangan infus, Kateter, Injeksi, oksigenasi)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
I. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMASANGAN NGT
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang NGT
Pengertian Nutrisi enternal adalah nutrient yang diberikan melalui saluran gastrointestinal. Pemasangan NGT adalah pemasangan selang plastic lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. (Potter and Perry, 2003)
Indikasi Klien tidak sadar / koma
Klien dengan masalah saluran pencernaan (stenosis oesofagus, tumor saluran pencernaan)
Klien dengan ketidakmampuan menelan/ atau tidak mungkin dilakukan pada saluran pencernaan.
Tujuan Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair atau padat yang sudah dicairkan
Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
Mengirigasi karena adanya perdarahan/ keracunan dalam lambung
Mencegah/ mengurangi mual dan muntah setelah pembedahan atau trauma
Mengambil/ specimen pada lambung untuk pemeriksaan laboratorium.
Pesiapan Alat-alat : 1. Sonde lambung/ pipa penduga pada tempatnya
2. Tongue spatel
3. Mangkuk berisi air
4. Corong spuit 20 cc, 30 cc, atau 50 cc
5. Pinset anatomis 1 buah
6. Klem
7. Plester gunting
8. Jelly
9. Stetoskop
10. Tissue, handuk
11. Bengkok
12. Sketsel
13. Perlak dan alasnya
Pesiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel
Prosedur 1. Letakkan alat ke samping klien
2. Cuci tangan
3. Bantu klien pada posisi high fowler
4. Pasang handuk di dada klien, letakkan tissue wajah dalam jangkauan klien
5. Memakai sarung tangan
6. Anjurkan klien untuk rileks dan bernafas dengan menutup satu hidung, kemudian mengulani satu yang lain
7. Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan : Ukur jarak dari puncak hidung ke daun telinga bawah dan ke processus xiphoideus di sternum, dan diberi tanda plester.
8. Oleskan jelly pada NGT sepanjang 10 – 20 cm
9. Posisikan klien ekstensi. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan putar selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan.
10. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas dengan mulut.
11. Jika ada hambatan atau klien tersedak. Sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang tenggorok dengan menggunakan tongue spatel dan senter.
12. Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan klien rileks dan bernafas normal
13. Periksa letak selang dengan :
Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas klien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen.
Mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan cairan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT ke dalam mangkuk yang mengisi air. Jika terdapat gelembung udara berarti selang masuk ke dalam paru-paru. Tidak terdapat gelembung udara, selang masuk ke dalam lambung.
14. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
15. Evaluasi klien setelah terpasang NGT
16. Rapikan alat-alat
17. Cuci tangan
18. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe NGT
Waktu pemasangan
Respon klien
Evaluasi Sikap Bekerja dengan catatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Sabar, Sopan, Komunikatif
II. SOP PEMASANGAN KATETER URINE (PRIA & WANITA)
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Kateter Urine
Pengertian Kateter adalah suatu selang untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan
Kateterisasi urinarius adalah memasukkan kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih dengan tujuan untuk mengeluarkan urin (Potter and Perry, 2003)
Tujuan Menghilangkan distensi kandung kemih
Mendapatkan spesimen urine
Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
Kontra Indikasi Pasien dengan Hematuria ( keluar dari uretra )
Pesiapan Alat-alat : 1. Baki
2. Kateter steril, ukuran disesuaikan dengan pasien (wanita : 14 – 16 French, Pria : 18 – 20 Fr, Anak : 8 – 10 Fr)
urobag / Urine Bag
3. Kapas sublimat/ kapas savlon steril dalam tempatnya
4. Kassa
5. Korentang
6. Cairan pelumas/ Jelly
7. Perlak
8. Bengkok 2 buah (untuk kasa kotor dan penampung urine)
9. Pinset anatomis
10. Duk steril
11. Spuit dan aquades
12. Sketsel
13. Sarung tangan steril
14. Plester
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur Pada Pasien Perempuan :
1. Alat didekatkan ke klien
2. Perawat cuci tangan
3. Perawat berdiri di samping kanan klien
4. Atur posisi pasien (dorsal recumbent)
5. Beri alas perlak di bawah klien
6. Tutup pasien dengan selimut mandi
7. Buka pembungkus kateter dengan teknik aseptik
8. Buka urine bag
9. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
10. Letakkan bengkok ke dekat pasien
11. Pakai sarung tangan steril
12. Pasang duk steril
13. Membuka labia minora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
14. Vulva dibersihkan dangan kapas savlon 5 buah/ betadine yang diencerkan (dari atas ke bawah, kapas kotor diletakkan di bengkok).
15. Dengan menggunankan sarutng tagang steril atau dengan pinset anatomis mengambil kateter dan diberi pelumas pada ujungnya
16. Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan 5-7 cm atau sampai uring keluar, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok
18. Bila kateter dipasang tetap/ permanen maka kateter terkunci memakai I spuit dan aquadest steril (mengisi balon) sebanyak 10-15 cc
19. Menyambung kateter dengan urobag/urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di iguinal.
21. Klien dirapikan dan alat-alat dibereskan
22. Mencuci tangan
23. Dukumentasikan prosedur yang telah dilakukan: ukuran kateter, jumlah dan karakter urin.
24. Evaluasi klien setelah terpasang kateter
25. Rapikan alat-alat
26. Cuci tangan
27. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Pada Pasien Pria
1. Perawat cuci tangan
2. Perawat berdiri di samping kanan klien
3. Atur posisi pasien : terlentang
4. Beri alas perlak di bawah klien
5. Tutup pasien dengan selimut mandi
6. Buka pembungkus kateter dengn teknik aseptik
7. Buka urin bag
8. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
9. Letakkan bengkok di dekat klien
10. Pakai sarung tangan steril
11. Pakai duk steril
12. Tangan kiri perawat memegang penis ke atas
13. Preputium ditarik sedikit ke pangkalnya dan dibersihkan dengan desinfeksi
14. Penis agak ditarik supaya lurus, dan kateter yang diberi pelumas dimasukkan perlahan-lahan, anjurkan pasien untuk nafas panjang
15. Masukkan kateter 17 - 22 cm atau sampai urine keluar
16. Jika urine sudah keluar, masukkan lagi sampai mentok
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok atau botol steril.
18. Bila kateter dipasang tetap/permanen maka kateter dikunci memakai spuit dan aquadest steril (mengisi balon)
19. Menyambung kateter dengan urobag/ urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di paha atau abdomen bawah
21. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
28. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
III. SOP PEMASANGAN INFUS IV
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Infus IV
Pengertian Adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum kee dalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Indikasi Kehilangan cairan tubuh dan komponen darah (perdarahan, trauma abdomen, fraktur, heat stoke, diare dan demam luka bakar luas)
Tujuan Rehidrasi
Resusitasi
Medikasi
Nutrisi
Maintenance
Pesiapan Alat-alat : 1. Infuse set steril
2. Cairan infuse yang dibutuhkan
3. Abocath no 18, 20, 22, 24
4. Kapas alcohol
5. Betadine
6. Toumiquet (karet pembendung)
7. Perlat dan alasnya
8. Spalk (k.p)
9. Bengkok
10. Kain kassa steril dalam tempatnya
11. Korentang dalam tempatnya
12. Plester dan gunting verban
13. Gantungan/ standart infuse
14. Jam tangan
15. Alat tulis
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberi tahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengatur letak baring pasien
4. Buka kemasan steril dengan teknik aseptic
5. Periksa larutandengan teknik 6 benar
6. Buka set infuse dengan memperhatikan sterilitas
7. Tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm dibawa ruang drip dan gerakan klem rol pada posisi off
8. Tusukkan set infuse ke dalam botol dan alirkan cairang ke dalam selang, dengan menekan ruang drip
9. Yakinkan selang bersi dari udara
10. Pakai sarung tangan disposible
11. Menyiapkan area yang akan ditusuk
12. Menutup jarum infuse dengan penutupnya
13. Memasang pengalas dibawah anggota badan yang akan dipasang infuse
14. Stuwig/ bendung dengan menggunakan tourniquet (karet pembendung)
15. Menghapus hamakan kulit dengan kapas alkohol
16. Menusukkan jarum infuse ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas
17. Tourniquet dilepas bila darah sudah masuk selang
18. Menutup bagian yang ditusuk dengan kassa steril yang sudah diberi betadine
19. Menghitung tetesan infuse, jika perlu pasang spalk
20. Memperhatikan reaksi pasien
21. Merapikan pasien
22. Membereskan alat
23. Perawatan cuci tangan
24. Mendokumentasikan tindakan.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
IV. SOP PERAWATAN LUKA
A. Perawatan Luka dengan Balutan Basah dan Lembab (kompres)
Pengertian Tindakan perawatan luka dan kompres yang membutuhkan balutan basah atau lembab.
Tujuan 1. Mencegah, membatasi, atau mengontrol infeksi
2. Mengangkat jaringan nekrotik untuk meningkatkan penyembuhan luka.
3. Menyerap drainase (eksudat)
4. Mempertahankan lingkungan luka yang lembap.
5. Mengompres mata
Indikasi 1. Luka kronis dan banyak drainase/ pus
2. Luka yang banyak kehilangan jaringan kulit
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set steril sesuai kebutuhan
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barang steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli.
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Cek instruksi dokter dan rencana perawatan
2. Siapkan alat-alat, termasuk, peralatan steril dii meja/ troli.
3. Identifikasi pasien, jelaskan tujuan dan prosedur
4. Berikan privasi
5. Tinggikan tempat tidur dan turunkan penghalang tempat tidur untuk bekerja di samping pasien
6. Tempatkan kantong untuk meletakkan balutan yang kotor di dekat pasien
7. Cuci tangan
8. Bentangkan perlak di bawah daerah yang akan diganti balutan
9. Pakai sarung tangan bersih (tidak steril)
10. Lepaskan plester ke arah luka atau buka ikatan balutan
11. Tuang larutan normal saline pada balutan
12. Lepaskan kasa satu per satu, lalu buang ke kantong plastic
13. Lepaskan sarung tangan
14. Buka set steril dengan tetap mempertahankan kesterilan alat.
15. Tuang larutan normal saline ke dalam kopyes dan letakkan beberapa potong kasa di daerah steril tersebut.
16. Pakai sarung tangan steril
17. Bersihkan area luka menggunakan kasa, tekan kasa pada daerah depresi atau lubang
18. Kaji luka, ukur, identifikasi tipe, dan tentukan apakah ada tanda-tanda infeksi
19. Bentangkan kasa lembap dan basah dalam lapisan tunggal dan tempatkan di bagian atas menutupi seluruh area.
20. Kemudian, tutup dengan kasa kering pada balutan untuk menahannya
21. Lepaskan sarung tangan dan masukkan ke dalam kantong sampah infeksius
22. Plester hanya pada bagian ujung-ujung balutan, plester mentgomeri dapat digunakan untuk mencegah iritasi kulit yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan oleh ganti balutan yang sering. Untuk daerah tertentu, dapat ditambah gulungan untuk memperkuat fiksasi.
23. Kembalikan pasien ke posisi semula. Turunkan tempat tidur dan kembali naikkan penghalang tempat tidur.
24. Buang materi yang kotor ke dalam wadah yang tepat (sampah infeksius)
25. Cuci tangan
26. Bereskan alat-alat
27. Catat dalam rekam medik
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Perawatan Luka dengan Balutan Kering
Pengertian Tindakan pembersihan luka dan penggnatian balutan kering
Tujuan 1. Mencegah infeksi sekunder
2. Luka bersih dan kering
3. Meminimalkan mikroorganisme
Indikasi Untuk luka atau insisi pembedahan yang mempunyai drainase minimal dan tidak ada jaringan yang hilang.
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set alat steril sesuai kebutuhan.
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barnag steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1 – 18 seperti pada perawatan luka dengan balutan bersih
2. Jika ada selang drain, bersihkan area drain dan sekitar area dengan gerakan sirkulasi (memutar kea rah luar). Jangan menggunakan zat kimia sitotoksik atau yang berbahaya
3. Pasang beberapa kasa pada drain
4. Tutup daerah luka dengan kasa steril
5. Lakukan prosedur 21 – 27 seperti pada perawatan luka dengan balutan basah.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
V. SOP INJEKSI INTRA VENA (IV), INTRA MUSKULAR (IM), INTRA CUTAN (IC), SUB CUTAN (SC)
A. Injeksi Intra Kutan (IK)
Pengertian Memasukkan obat ke dalam jaringan kulit
Tujuan 1. Mendapatkan reaksi setempat pada tes alergi.
2. Mendapatkan kekebalan pada imunisasi
Lokasi Injeksi 1. Lengan bawah
Bagian depan lengan (valor), sepertiga dari lekukan siku atau dua pertiga dari pergelangan tangan. Pada kulit yang sehat, jauh dari pembunuh darah, untuk tes mantoux dan tes alergi.
2. Lenga atas
Tiga jari di bawah sendi baru, di tengah-tengah daerah muskulus deltoideus, untuk BCG.
Indikasi Dilakukan pada pasien yang mendapatkan suntikan kekebalan atau menetukan reaksi dari obat
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuil 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, (naCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan.
Prosedur 1. Periksa program terapi
2. Siapkan obat, baca label, baca batas kadaluwarsa
3. Hitung dosis obat dengan tepat
4. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
5. Bawa alat-alat ke dekat pasien
6. Cuci tangan
7. Jaga privasi pasien
8. Atur posisi pasien
9. Pasang perlak dan pengalas
10. Bebaskan daerah yang akan diinjeksi dari pakaian. Pastikan lokasi/tempat yang dipilih bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak, dan randang.
11. Pakai sarung tangan
12. Hisap obat ke dalam spuit, pastikan tidak ada udara di dalam tabung spuit
13. Tentukan tempat penyuntikan dengan benar.
14. Desinfeksi menggunakan kapas alkohol secara melinkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering. Pada imunisasi BCG, digunakan kaps basah tanpa alkohol.
15. Rengankan kulit, pasien menggunakan dua jari tangan kiri (non-dominan), kemudian jarum ditusukkan perlahan-lahn dengan luban jarum mengarah ke atas dengan sudut 15-20˚ pada permukaan kulit.
16. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung, tarik spuit dan jagan dilakukan pengurutang/massage.
17. Letakkan spuit ke dalam bengkok
18. Lepaskan sarung tangan
19. Rapikan pasien
20. Bereskan alat-alat dan simpan pada tempatnya
21. Cuci tangan
22. Catat obat yang telah diberikan
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Injeksi Sub Kutan (SK)
Pengertian Memberikan obat sutikan di bawah kulit
Tujuan Untuk memberinkan obat tertentu, misalnya insulin dan heparin yang membutuhkan penyerapan lebih lama serta kekebalan.
Indikasi 1. Diberikan pasien yang memdapatkan suntikan dengan rekomendasi pemberian subtukan, seperti isulin dan heparin
2. Untuk mendapat kekebalan DPT.
Lokasi Injeksi SK 1. Lengan atas sebelah luar atau sepertiga bagian dari bahu
2. Paha sebelah luar
3. Daera dada.
4. Sekitar umbilicus (abdomen)
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang perlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-14 seperti injeksi intra kutan
2. Angkat sedikit kulit menggunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, kemudian tusukkan jarum perlahan-lahan dengan sudut 45-90˚, gunakan jarum ukuran 27 G atau jarum insulin.
3. Lakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk, selanjutnya msukkan obat perlahan;lahan sampai habis atau seesuai dosis. Jangan dilakukan pengurutang/massage.
4. Setelah obat masuk semua, tarik spuit dan olesi daerah tusukan dengan kapas alkohol
5. Lakukan prosedur 17-22 injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
C. Injeksi Intra Muskular (IM)
Pengertian Pemberian obat dengan cara memasukkan langsung ke dalam otot
Tujuan Mempercepat penyerapan obat
Lokasi Injeksi IM 1. Otot dorsogluteal
2. Otot ventrogluteal
3. Otot vastus lateralis
4. Otot deltoid
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 2,5-5 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-11 seperti pada injeksi intra kutan
2. Hisap obat ke dalam tabung spuit. Tambahkan 0,2 ml udara ke dalam tabung. Tutup jarum kembali.
3. Atur posisi pasien sesuai dengan lokasi yang dipilih
a. Dorsogluteal : posisi prone, pasien berbaring telungkup
b. Ventrogluteal : posisi sims, pasien berbaring miring membelakangi perawat dengan pangkal paha dan lutut dan kaki atas ditekuk
c. Vastus lateralis : pasien berbaring dengan posisi miring atau mengambil posisi duduk
d. Deltoid : pasien duduk atau berbaring dengan tangan santai (rileks)
4. Desinfeksi menggunakan kapas alakohol secara melingkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering
5. Buka penutup jarum dengan hati-hati
6. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit (non dominan) untuk meregangkan kulit pada area yangakan ditusuk dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk bagi pasien gemuk. Bagi pasien kurus, cubit kulit beserta jaringan di bawahnya.
7. Pegang spuit antara jempol atau ibu jari, kemudian dengan cepat tusukkan jarum spuit secara tegak lurus (dengan sudut 90˚) hingga jarum masuk 2/3 bagian
8. Tangan kiri (non dominan) segera pindah untuk memegang spuit dari bawah dan tangan kanan (dominan) memegang ujung barrel (pendorong spuit)
9. Lakukan aspirasi secara perlahan dengan cara menarik sedikit ujung barrel dan pastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah dengan tidak ada darah yang masuk ke dalam spuit. Jika terdapat darah di dalam spuit, segera cabut spuit dan buang spuit bersama obatnya. Suntik kembali set baru di tenpat lain.
10. Jika tidak ada darah setelah sedikit aspirasi, dorong cairan obatsecara perlahan
11. Setelah obat masuk seluruhnya, tarik jarum injeksi dengan cepat, tekan daerah penusukan dengan kapas alkohol.
12. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
D. Injeksi Intra Vena (IV)
Pengertian Pemberian obat/cairan dengan cara menusukkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.
Tujuan Mempercepat reaksi obat karena langsung masuk ke peredaran darah.
Lokasi Injeksi IV 1. Lengan (vena mediana cubiti, vena chepalia)
2. Tungkai (vena sapheneus)
3. Leher (vena yugularis, khusus pada anak)
4. Kepala (vena frontalis/ vena temporalis, khusus pada anak)
Pesiapan Alat-alat : Sama pada persiapan alat pada injeksi intra kutan. Ukuran spuit beragam
Karet pembendung
Plester, kasa, dan gunting.
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-13 seperti pada injeksi intra kutan
2. Ikat bagian atas daerah yang akan disuntik dengan karet pembendung agar vena mudah dirabah/ dilihat. Untuk bagian lengan, pasien dianjurkan untuk mengepalkan tangan
3. Desinfeksi kulit dengan kapas alkohol melingkar dari arah dalam keluar. Biarkan kering, buang kapas ke bengkok
4. Tusuk vena dengan kemiringan 15-30˚ dan lubang jarum menghadap ke atas
5. Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke dalam spuit
6. Minta pasien untuk membuka kepalan secara perlahan kemudian buka karet pembendung
7. Masukkan obat secara perlahan
8. Setelah obat masuk semua, cabut spuit sambil menekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol, lalu diplester.
9. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
VI. SOP MEMBERIKAN OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, NASAL KATETER, DAN MASKER
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memberikan O2 Nasal kanul, Nasal kateter, dan Masker.
Pengertian Memberikan tambahan oksigen pada klien yang membutuhkan (Kusyati, Erni. (2006)
Indikasi 1. Adanya gangguan penyakit pernafasan (missal: COPD, Pneumonia, Atelektasis)
2. Gangguan pada kardiovaskular (Misal: IMA, Angina Pectoris, distrimia)
3. Gangguan pada SSP (Misal: overdosis narcotic, anestesi)
4. Klien dengan kondisi peningkatan kerja nafas (laju, kedalaman, penggunaan kerja otot tambahan)
Tujuan 1. Mencegah dan mengatasi keadaan hypoxsemia
2. Menurunkan kerja nafas dan miokard
Pengkajian TTV, status pernafasan (frekuensi, kedalaman, penggunaan otot bantu pernafasan, hasil AGD (analisa gas darah), tanda hipoksemia.
Persiapan Pasien 1. Menjelaskan prosedur dan tujuan yang akan dilakukan
2. Memberikan posisi klien yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pasien
Pesiapan Alat-alat : 1. Tabung oksigen dengan flow meter dan huminidifier
2. Nasal kanul, masker, kanul sesuai ukuran
3. Aquades
4. Jeli
5. Alat tulis dan lembar observasi
6. handscoen
Persiapan Lingkungan Memberikan lingkungan yang aman dan nyaman (letakkan label bertuliskan “DILARANG MEROKOK”)
Prosedur 1. Mencuci tangan
2. Mengatur peralatan oksigen dan humidifier
3. Mengecek flow meter, humidifier dan air pada tabung humidifier
4. Menghubungkan selang nasal kanul/ masker/ kanul pada tabung oksigen
5. Mengontrol apakah peralatan berfungsi
A. CARA PEMBERIAN NASAL KANUL
1. Membuka aliran oksigen untuk menetukan
Kecepatan antara 1-5 liter/menit (sesuai program terapi)
2. Memasukan nasal kanule ke dalam lubang hidung pasien
3. Memfiksasi dan mempeertahankan selang oksigen cukup kendur
4. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
5. Mengantur aliran O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan aliran oksigen sesuai promgam terapi dan membersihkan nasal kanule setiap 8 jam
B. CARA PEMBERIAN MASKER
1. +Memasang an masker pada wajah klien dari hidung ke bawah
2. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
3. Mengantur aliran oksigen sesuai program terapi (antara 5-8 liter/menit untuk maker sederhana)
4. Mencuci tangan
5. Memeriksa secempatang aliran oksigen sesuai program terapi dan besihkan muka dan masker setiap 8 jam
C. CARA PEMBERIAN NASAL KATETER
1. Memakai handcoen
2. Mengukur panjang nasal kateter
3. Member jeli pada nasal kateter
4. Memasukan secara hati-hati ke dalam hidung
5. Mengantur alirang O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan alirang oksigen sesuai terapi dan menganti kateter minimal 8 jam.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
I. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMASANGAN NGT
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang NGT
Pengertian Nutrisi enternal adalah nutrient yang diberikan melalui saluran gastrointestinal. Pemasangan NGT adalah pemasangan selang plastic lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. (Potter and Perry, 2003)
Indikasi Klien tidak sadar / koma
Klien dengan masalah saluran pencernaan (stenosis oesofagus, tumor saluran pencernaan)
Klien dengan ketidakmampuan menelan/ atau tidak mungkin dilakukan pada saluran pencernaan.
Tujuan Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair atau padat yang sudah dicairkan
Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
Mengirigasi karena adanya perdarahan/ keracunan dalam lambung
Mencegah/ mengurangi mual dan muntah setelah pembedahan atau trauma
Mengambil/ specimen pada lambung untuk pemeriksaan laboratorium.
Pesiapan Alat-alat : 1. Sonde lambung/ pipa penduga pada tempatnya
2. Tongue spatel
3. Mangkuk berisi air
4. Corong spuit 20 cc, 30 cc, atau 50 cc
5. Pinset anatomis 1 buah
6. Klem
7. Plester gunting
8. Jelly
9. Stetoskop
10. Tissue, handuk
11. Bengkok
12. Sketsel
13. Perlak dan alasnya
Pesiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel
Prosedur 1. Letakkan alat ke samping klien
2. Cuci tangan
3. Bantu klien pada posisi high fowler
4. Pasang handuk di dada klien, letakkan tissue wajah dalam jangkauan klien
5. Memakai sarung tangan
6. Anjurkan klien untuk rileks dan bernafas dengan menutup satu hidung, kemudian mengulani satu yang lain
7. Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan : Ukur jarak dari puncak hidung ke daun telinga bawah dan ke processus xiphoideus di sternum, dan diberi tanda plester.
8. Oleskan jelly pada NGT sepanjang 10 – 20 cm
9. Posisikan klien ekstensi. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan putar selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan.
10. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas dengan mulut.
11. Jika ada hambatan atau klien tersedak. Sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang tenggorok dengan menggunakan tongue spatel dan senter.
12. Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan klien rileks dan bernafas normal
13. Periksa letak selang dengan :
Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas klien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen.
Mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan cairan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT ke dalam mangkuk yang mengisi air. Jika terdapat gelembung udara berarti selang masuk ke dalam paru-paru. Tidak terdapat gelembung udara, selang masuk ke dalam lambung.
14. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
15. Evaluasi klien setelah terpasang NGT
16. Rapikan alat-alat
17. Cuci tangan
18. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe NGT
Waktu pemasangan
Respon klien
Evaluasi Sikap Bekerja dengan catatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Sabar, Sopan, Komunikatif
II. SOP PEMASANGAN KATETER URINE (PRIA & WANITA)
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Kateter Urine
Pengertian Kateter adalah suatu selang untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan
Kateterisasi urinarius adalah memasukkan kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih dengan tujuan untuk mengeluarkan urin (Potter and Perry, 2003)
Tujuan Menghilangkan distensi kandung kemih
Mendapatkan spesimen urine
Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
Kontra Indikasi Pasien dengan Hematuria ( keluar dari uretra )
Pesiapan Alat-alat : 1. Baki
2. Kateter steril, ukuran disesuaikan dengan pasien (wanita : 14 – 16 French, Pria : 18 – 20 Fr, Anak : 8 – 10 Fr)
urobag / Urine Bag
3. Kapas sublimat/ kapas savlon steril dalam tempatnya
4. Kassa
5. Korentang
6. Cairan pelumas/ Jelly
7. Perlak
8. Bengkok 2 buah (untuk kasa kotor dan penampung urine)
9. Pinset anatomis
10. Duk steril
11. Spuit dan aquades
12. Sketsel
13. Sarung tangan steril
14. Plester
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur Pada Pasien Perempuan :
1. Alat didekatkan ke klien
2. Perawat cuci tangan
3. Perawat berdiri di samping kanan klien
4. Atur posisi pasien (dorsal recumbent)
5. Beri alas perlak di bawah klien
6. Tutup pasien dengan selimut mandi
7. Buka pembungkus kateter dengan teknik aseptik
8. Buka urine bag
9. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
10. Letakkan bengkok ke dekat pasien
11. Pakai sarung tangan steril
12. Pasang duk steril
13. Membuka labia minora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
14. Vulva dibersihkan dangan kapas savlon 5 buah/ betadine yang diencerkan (dari atas ke bawah, kapas kotor diletakkan di bengkok).
15. Dengan menggunankan sarutng tagang steril atau dengan pinset anatomis mengambil kateter dan diberi pelumas pada ujungnya
16. Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan 5-7 cm atau sampai uring keluar, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok
18. Bila kateter dipasang tetap/ permanen maka kateter terkunci memakai I spuit dan aquadest steril (mengisi balon) sebanyak 10-15 cc
19. Menyambung kateter dengan urobag/urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di iguinal.
21. Klien dirapikan dan alat-alat dibereskan
22. Mencuci tangan
23. Dukumentasikan prosedur yang telah dilakukan: ukuran kateter, jumlah dan karakter urin.
24. Evaluasi klien setelah terpasang kateter
25. Rapikan alat-alat
26. Cuci tangan
27. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Pada Pasien Pria
1. Perawat cuci tangan
2. Perawat berdiri di samping kanan klien
3. Atur posisi pasien : terlentang
4. Beri alas perlak di bawah klien
5. Tutup pasien dengan selimut mandi
6. Buka pembungkus kateter dengn teknik aseptik
7. Buka urin bag
8. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
9. Letakkan bengkok di dekat klien
10. Pakai sarung tangan steril
11. Pakai duk steril
12. Tangan kiri perawat memegang penis ke atas
13. Preputium ditarik sedikit ke pangkalnya dan dibersihkan dengan desinfeksi
14. Penis agak ditarik supaya lurus, dan kateter yang diberi pelumas dimasukkan perlahan-lahan, anjurkan pasien untuk nafas panjang
15. Masukkan kateter 17 - 22 cm atau sampai urine keluar
16. Jika urine sudah keluar, masukkan lagi sampai mentok
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok atau botol steril.
18. Bila kateter dipasang tetap/permanen maka kateter dikunci memakai spuit dan aquadest steril (mengisi balon)
19. Menyambung kateter dengan urobag/ urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di paha atau abdomen bawah
21. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
28. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
III. SOP PEMASANGAN INFUS IV
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Infus IV
Pengertian Adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum kee dalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Indikasi Kehilangan cairan tubuh dan komponen darah (perdarahan, trauma abdomen, fraktur, heat stoke, diare dan demam luka bakar luas)
Tujuan Rehidrasi
Resusitasi
Medikasi
Nutrisi
Maintenance
Pesiapan Alat-alat : 1. Infuse set steril
2. Cairan infuse yang dibutuhkan
3. Abocath no 18, 20, 22, 24
4. Kapas alcohol
5. Betadine
6. Toumiquet (karet pembendung)
7. Perlat dan alasnya
8. Spalk (k.p)
9. Bengkok
10. Kain kassa steril dalam tempatnya
11. Korentang dalam tempatnya
12. Plester dan gunting verban
13. Gantungan/ standart infuse
14. Jam tangan
15. Alat tulis
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberi tahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengatur letak baring pasien
4. Buka kemasan steril dengan teknik aseptic
5. Periksa larutandengan teknik 6 benar
6. Buka set infuse dengan memperhatikan sterilitas
7. Tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm dibawa ruang drip dan gerakan klem rol pada posisi off
8. Tusukkan set infuse ke dalam botol dan alirkan cairang ke dalam selang, dengan menekan ruang drip
9. Yakinkan selang bersi dari udara
10. Pakai sarung tangan disposible
11. Menyiapkan area yang akan ditusuk
12. Menutup jarum infuse dengan penutupnya
13. Memasang pengalas dibawah anggota badan yang akan dipasang infuse
14. Stuwig/ bendung dengan menggunakan tourniquet (karet pembendung)
15. Menghapus hamakan kulit dengan kapas alkohol
16. Menusukkan jarum infuse ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas
17. Tourniquet dilepas bila darah sudah masuk selang
18. Menutup bagian yang ditusuk dengan kassa steril yang sudah diberi betadine
19. Menghitung tetesan infuse, jika perlu pasang spalk
20. Memperhatikan reaksi pasien
21. Merapikan pasien
22. Membereskan alat
23. Perawatan cuci tangan
24. Mendokumentasikan tindakan.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
IV. SOP PERAWATAN LUKA
A. Perawatan Luka dengan Balutan Basah dan Lembab (kompres)
Pengertian Tindakan perawatan luka dan kompres yang membutuhkan balutan basah atau lembab.
Tujuan 1. Mencegah, membatasi, atau mengontrol infeksi
2. Mengangkat jaringan nekrotik untuk meningkatkan penyembuhan luka.
3. Menyerap drainase (eksudat)
4. Mempertahankan lingkungan luka yang lembap.
5. Mengompres mata
Indikasi 1. Luka kronis dan banyak drainase/ pus
2. Luka yang banyak kehilangan jaringan kulit
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set steril sesuai kebutuhan
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barang steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli.
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Cek instruksi dokter dan rencana perawatan
2. Siapkan alat-alat, termasuk, peralatan steril dii meja/ troli.
3. Identifikasi pasien, jelaskan tujuan dan prosedur
4. Berikan privasi
5. Tinggikan tempat tidur dan turunkan penghalang tempat tidur untuk bekerja di samping pasien
6. Tempatkan kantong untuk meletakkan balutan yang kotor di dekat pasien
7. Cuci tangan
8. Bentangkan perlak di bawah daerah yang akan diganti balutan
9. Pakai sarung tangan bersih (tidak steril)
10. Lepaskan plester ke arah luka atau buka ikatan balutan
11. Tuang larutan normal saline pada balutan
12. Lepaskan kasa satu per satu, lalu buang ke kantong plastic
13. Lepaskan sarung tangan
14. Buka set steril dengan tetap mempertahankan kesterilan alat.
15. Tuang larutan normal saline ke dalam kopyes dan letakkan beberapa potong kasa di daerah steril tersebut.
16. Pakai sarung tangan steril
17. Bersihkan area luka menggunakan kasa, tekan kasa pada daerah depresi atau lubang
18. Kaji luka, ukur, identifikasi tipe, dan tentukan apakah ada tanda-tanda infeksi
19. Bentangkan kasa lembap dan basah dalam lapisan tunggal dan tempatkan di bagian atas menutupi seluruh area.
20. Kemudian, tutup dengan kasa kering pada balutan untuk menahannya
21. Lepaskan sarung tangan dan masukkan ke dalam kantong sampah infeksius
22. Plester hanya pada bagian ujung-ujung balutan, plester mentgomeri dapat digunakan untuk mencegah iritasi kulit yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan oleh ganti balutan yang sering. Untuk daerah tertentu, dapat ditambah gulungan untuk memperkuat fiksasi.
23. Kembalikan pasien ke posisi semula. Turunkan tempat tidur dan kembali naikkan penghalang tempat tidur.
24. Buang materi yang kotor ke dalam wadah yang tepat (sampah infeksius)
25. Cuci tangan
26. Bereskan alat-alat
27. Catat dalam rekam medik
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Perawatan Luka dengan Balutan Kering
Pengertian Tindakan pembersihan luka dan penggnatian balutan kering
Tujuan 1. Mencegah infeksi sekunder
2. Luka bersih dan kering
3. Meminimalkan mikroorganisme
Indikasi Untuk luka atau insisi pembedahan yang mempunyai drainase minimal dan tidak ada jaringan yang hilang.
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set alat steril sesuai kebutuhan.
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barnag steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1 – 18 seperti pada perawatan luka dengan balutan bersih
2. Jika ada selang drain, bersihkan area drain dan sekitar area dengan gerakan sirkulasi (memutar kea rah luar). Jangan menggunakan zat kimia sitotoksik atau yang berbahaya
3. Pasang beberapa kasa pada drain
4. Tutup daerah luka dengan kasa steril
5. Lakukan prosedur 21 – 27 seperti pada perawatan luka dengan balutan basah.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
V. SOP INJEKSI INTRA VENA (IV), INTRA MUSKULAR (IM), INTRA CUTAN (IC), SUB CUTAN (SC)
A. Injeksi Intra Kutan (IK)
Pengertian Memasukkan obat ke dalam jaringan kulit
Tujuan 1. Mendapatkan reaksi setempat pada tes alergi.
2. Mendapatkan kekebalan pada imunisasi
Lokasi Injeksi 1. Lengan bawah
Bagian depan lengan (valor), sepertiga dari lekukan siku atau dua pertiga dari pergelangan tangan. Pada kulit yang sehat, jauh dari pembunuh darah, untuk tes mantoux dan tes alergi.
2. Lenga atas
Tiga jari di bawah sendi baru, di tengah-tengah daerah muskulus deltoideus, untuk BCG.
Indikasi Dilakukan pada pasien yang mendapatkan suntikan kekebalan atau menetukan reaksi dari obat
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuil 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, (naCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan.
Prosedur 1. Periksa program terapi
2. Siapkan obat, baca label, baca batas kadaluwarsa
3. Hitung dosis obat dengan tepat
4. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
5. Bawa alat-alat ke dekat pasien
6. Cuci tangan
7. Jaga privasi pasien
8. Atur posisi pasien
9. Pasang perlak dan pengalas
10. Bebaskan daerah yang akan diinjeksi dari pakaian. Pastikan lokasi/tempat yang dipilih bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak, dan randang.
11. Pakai sarung tangan
12. Hisap obat ke dalam spuit, pastikan tidak ada udara di dalam tabung spuit
13. Tentukan tempat penyuntikan dengan benar.
14. Desinfeksi menggunakan kapas alkohol secara melinkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering. Pada imunisasi BCG, digunakan kaps basah tanpa alkohol.
15. Rengankan kulit, pasien menggunakan dua jari tangan kiri (non-dominan), kemudian jarum ditusukkan perlahan-lahn dengan luban jarum mengarah ke atas dengan sudut 15-20˚ pada permukaan kulit.
16. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung, tarik spuit dan jagan dilakukan pengurutang/massage.
17. Letakkan spuit ke dalam bengkok
18. Lepaskan sarung tangan
19. Rapikan pasien
20. Bereskan alat-alat dan simpan pada tempatnya
21. Cuci tangan
22. Catat obat yang telah diberikan
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Injeksi Sub Kutan (SK)
Pengertian Memberikan obat sutikan di bawah kulit
Tujuan Untuk memberinkan obat tertentu, misalnya insulin dan heparin yang membutuhkan penyerapan lebih lama serta kekebalan.
Indikasi 1. Diberikan pasien yang memdapatkan suntikan dengan rekomendasi pemberian subtukan, seperti isulin dan heparin
2. Untuk mendapat kekebalan DPT.
Lokasi Injeksi SK 1. Lengan atas sebelah luar atau sepertiga bagian dari bahu
2. Paha sebelah luar
3. Daera dada.
4. Sekitar umbilicus (abdomen)
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang perlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-14 seperti injeksi intra kutan
2. Angkat sedikit kulit menggunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, kemudian tusukkan jarum perlahan-lahan dengan sudut 45-90˚, gunakan jarum ukuran 27 G atau jarum insulin.
3. Lakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk, selanjutnya msukkan obat perlahan;lahan sampai habis atau seesuai dosis. Jangan dilakukan pengurutang/massage.
4. Setelah obat masuk semua, tarik spuit dan olesi daerah tusukan dengan kapas alkohol
5. Lakukan prosedur 17-22 injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
C. Injeksi Intra Muskular (IM)
Pengertian Pemberian obat dengan cara memasukkan langsung ke dalam otot
Tujuan Mempercepat penyerapan obat
Lokasi Injeksi IM 1. Otot dorsogluteal
2. Otot ventrogluteal
3. Otot vastus lateralis
4. Otot deltoid
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 2,5-5 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-11 seperti pada injeksi intra kutan
2. Hisap obat ke dalam tabung spuit. Tambahkan 0,2 ml udara ke dalam tabung. Tutup jarum kembali.
3. Atur posisi pasien sesuai dengan lokasi yang dipilih
a. Dorsogluteal : posisi prone, pasien berbaring telungkup
b. Ventrogluteal : posisi sims, pasien berbaring miring membelakangi perawat dengan pangkal paha dan lutut dan kaki atas ditekuk
c. Vastus lateralis : pasien berbaring dengan posisi miring atau mengambil posisi duduk
d. Deltoid : pasien duduk atau berbaring dengan tangan santai (rileks)
4. Desinfeksi menggunakan kapas alakohol secara melingkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering
5. Buka penutup jarum dengan hati-hati
6. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit (non dominan) untuk meregangkan kulit pada area yangakan ditusuk dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk bagi pasien gemuk. Bagi pasien kurus, cubit kulit beserta jaringan di bawahnya.
7. Pegang spuit antara jempol atau ibu jari, kemudian dengan cepat tusukkan jarum spuit secara tegak lurus (dengan sudut 90˚) hingga jarum masuk 2/3 bagian
8. Tangan kiri (non dominan) segera pindah untuk memegang spuit dari bawah dan tangan kanan (dominan) memegang ujung barrel (pendorong spuit)
9. Lakukan aspirasi secara perlahan dengan cara menarik sedikit ujung barrel dan pastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah dengan tidak ada darah yang masuk ke dalam spuit. Jika terdapat darah di dalam spuit, segera cabut spuit dan buang spuit bersama obatnya. Suntik kembali set baru di tenpat lain.
10. Jika tidak ada darah setelah sedikit aspirasi, dorong cairan obatsecara perlahan
11. Setelah obat masuk seluruhnya, tarik jarum injeksi dengan cepat, tekan daerah penusukan dengan kapas alkohol.
12. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
D. Injeksi Intra Vena (IV)
Pengertian Pemberian obat/cairan dengan cara menusukkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.
Tujuan Mempercepat reaksi obat karena langsung masuk ke peredaran darah.
Lokasi Injeksi IV 1. Lengan (vena mediana cubiti, vena chepalia)
2. Tungkai (vena sapheneus)
3. Leher (vena yugularis, khusus pada anak)
4. Kepala (vena frontalis/ vena temporalis, khusus pada anak)
Pesiapan Alat-alat : Sama pada persiapan alat pada injeksi intra kutan. Ukuran spuit beragam
Karet pembendung
Plester, kasa, dan gunting.
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-13 seperti pada injeksi intra kutan
2. Ikat bagian atas daerah yang akan disuntik dengan karet pembendung agar vena mudah dirabah/ dilihat. Untuk bagian lengan, pasien dianjurkan untuk mengepalkan tangan
3. Desinfeksi kulit dengan kapas alkohol melingkar dari arah dalam keluar. Biarkan kering, buang kapas ke bengkok
4. Tusuk vena dengan kemiringan 15-30˚ dan lubang jarum menghadap ke atas
5. Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke dalam spuit
6. Minta pasien untuk membuka kepalan secara perlahan kemudian buka karet pembendung
7. Masukkan obat secara perlahan
8. Setelah obat masuk semua, cabut spuit sambil menekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol, lalu diplester.
9. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
VI. SOP MEMBERIKAN OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, NASAL KATETER, DAN MASKER
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memberikan O2 Nasal kanul, Nasal kateter, dan Masker.
Pengertian Memberikan tambahan oksigen pada klien yang membutuhkan (Kusyati, Erni. (2006)
Indikasi 1. Adanya gangguan penyakit pernafasan (missal: COPD, Pneumonia, Atelektasis)
2. Gangguan pada kardiovaskular (Misal: IMA, Angina Pectoris, distrimia)
3. Gangguan pada SSP (Misal: overdosis narcotic, anestesi)
4. Klien dengan kondisi peningkatan kerja nafas (laju, kedalaman, penggunaan kerja otot tambahan)
Tujuan 1. Mencegah dan mengatasi keadaan hypoxsemia
2. Menurunkan kerja nafas dan miokard
Pengkajian TTV, status pernafasan (frekuensi, kedalaman, penggunaan otot bantu pernafasan, hasil AGD (analisa gas darah), tanda hipoksemia.
Persiapan Pasien 1. Menjelaskan prosedur dan tujuan yang akan dilakukan
2. Memberikan posisi klien yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pasien
Pesiapan Alat-alat : 1. Tabung oksigen dengan flow meter dan huminidifier
2. Nasal kanul, masker, kanul sesuai ukuran
3. Aquades
4. Jeli
5. Alat tulis dan lembar observasi
6. handscoen
Persiapan Lingkungan Memberikan lingkungan yang aman dan nyaman (letakkan label bertuliskan “DILARANG MEROKOK”)
Prosedur 1. Mencuci tangan
2. Mengatur peralatan oksigen dan humidifier
3. Mengecek flow meter, humidifier dan air pada tabung humidifier
4. Menghubungkan selang nasal kanul/ masker/ kanul pada tabung oksigen
5. Mengontrol apakah peralatan berfungsi
A. CARA PEMBERIAN NASAL KANUL
1. Membuka aliran oksigen untuk menetukan
Kecepatan antara 1-5 liter/menit (sesuai program terapi)
2. Memasukan nasal kanule ke dalam lubang hidung pasien
3. Memfiksasi dan mempeertahankan selang oksigen cukup kendur
4. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
5. Mengantur aliran O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan aliran oksigen sesuai promgam terapi dan membersihkan nasal kanule setiap 8 jam
B. CARA PEMBERIAN MASKER
1. +Memasang an masker pada wajah klien dari hidung ke bawah
2. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
3. Mengantur aliran oksigen sesuai program terapi (antara 5-8 liter/menit untuk maker sederhana)
4. Mencuci tangan
5. Memeriksa secempatang aliran oksigen sesuai program terapi dan besihkan muka dan masker setiap 8 jam
C. CARA PEMBERIAN NASAL KATETER
1. Memakai handcoen
2. Mengukur panjang nasal kateter
3. Member jeli pada nasal kateter
4. Memasukan secara hati-hati ke dalam hidung
5. Mengantur alirang O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan alirang oksigen sesuai terapi dan menganti kateter minimal 8 jam.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Langganan:
Komentar (Atom)
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
-
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
-
https://www.scribd.com/document/366450623/Djj