Selasa, 05 Desember 2017
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366448712/Pathway-Gagal-Jantung-Hf-From-Askep-Dg-g3-Sistem-Kardio-Dan-Hematologi-Book
https://www.scribd.com/document/366448712/Pathway-Gagal-Jantung-Hf-From-Askep-Dg-g3-Sistem-Kardio-Dan-Hematologi-Book
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (NGT, Pemasangan infus, Kateter, Injeksi, oksigenasi)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
I. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMASANGAN NGT
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang NGT
Pengertian Nutrisi enternal adalah nutrient yang diberikan melalui saluran gastrointestinal. Pemasangan NGT adalah pemasangan selang plastic lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. (Potter and Perry, 2003)
Indikasi Klien tidak sadar / koma
Klien dengan masalah saluran pencernaan (stenosis oesofagus, tumor saluran pencernaan)
Klien dengan ketidakmampuan menelan/ atau tidak mungkin dilakukan pada saluran pencernaan.
Tujuan Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair atau padat yang sudah dicairkan
Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
Mengirigasi karena adanya perdarahan/ keracunan dalam lambung
Mencegah/ mengurangi mual dan muntah setelah pembedahan atau trauma
Mengambil/ specimen pada lambung untuk pemeriksaan laboratorium.
Pesiapan Alat-alat : 1. Sonde lambung/ pipa penduga pada tempatnya
2. Tongue spatel
3. Mangkuk berisi air
4. Corong spuit 20 cc, 30 cc, atau 50 cc
5. Pinset anatomis 1 buah
6. Klem
7. Plester gunting
8. Jelly
9. Stetoskop
10. Tissue, handuk
11. Bengkok
12. Sketsel
13. Perlak dan alasnya
Pesiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel
Prosedur 1. Letakkan alat ke samping klien
2. Cuci tangan
3. Bantu klien pada posisi high fowler
4. Pasang handuk di dada klien, letakkan tissue wajah dalam jangkauan klien
5. Memakai sarung tangan
6. Anjurkan klien untuk rileks dan bernafas dengan menutup satu hidung, kemudian mengulani satu yang lain
7. Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan : Ukur jarak dari puncak hidung ke daun telinga bawah dan ke processus xiphoideus di sternum, dan diberi tanda plester.
8. Oleskan jelly pada NGT sepanjang 10 – 20 cm
9. Posisikan klien ekstensi. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan putar selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan.
10. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas dengan mulut.
11. Jika ada hambatan atau klien tersedak. Sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang tenggorok dengan menggunakan tongue spatel dan senter.
12. Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan klien rileks dan bernafas normal
13. Periksa letak selang dengan :
Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas klien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen.
Mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan cairan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT ke dalam mangkuk yang mengisi air. Jika terdapat gelembung udara berarti selang masuk ke dalam paru-paru. Tidak terdapat gelembung udara, selang masuk ke dalam lambung.
14. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
15. Evaluasi klien setelah terpasang NGT
16. Rapikan alat-alat
17. Cuci tangan
18. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe NGT
Waktu pemasangan
Respon klien
Evaluasi Sikap Bekerja dengan catatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Sabar, Sopan, Komunikatif
II. SOP PEMASANGAN KATETER URINE (PRIA & WANITA)
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Kateter Urine
Pengertian Kateter adalah suatu selang untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan
Kateterisasi urinarius adalah memasukkan kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih dengan tujuan untuk mengeluarkan urin (Potter and Perry, 2003)
Tujuan Menghilangkan distensi kandung kemih
Mendapatkan spesimen urine
Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
Kontra Indikasi Pasien dengan Hematuria ( keluar dari uretra )
Pesiapan Alat-alat : 1. Baki
2. Kateter steril, ukuran disesuaikan dengan pasien (wanita : 14 – 16 French, Pria : 18 – 20 Fr, Anak : 8 – 10 Fr)
urobag / Urine Bag
3. Kapas sublimat/ kapas savlon steril dalam tempatnya
4. Kassa
5. Korentang
6. Cairan pelumas/ Jelly
7. Perlak
8. Bengkok 2 buah (untuk kasa kotor dan penampung urine)
9. Pinset anatomis
10. Duk steril
11. Spuit dan aquades
12. Sketsel
13. Sarung tangan steril
14. Plester
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur Pada Pasien Perempuan :
1. Alat didekatkan ke klien
2. Perawat cuci tangan
3. Perawat berdiri di samping kanan klien
4. Atur posisi pasien (dorsal recumbent)
5. Beri alas perlak di bawah klien
6. Tutup pasien dengan selimut mandi
7. Buka pembungkus kateter dengan teknik aseptik
8. Buka urine bag
9. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
10. Letakkan bengkok ke dekat pasien
11. Pakai sarung tangan steril
12. Pasang duk steril
13. Membuka labia minora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
14. Vulva dibersihkan dangan kapas savlon 5 buah/ betadine yang diencerkan (dari atas ke bawah, kapas kotor diletakkan di bengkok).
15. Dengan menggunankan sarutng tagang steril atau dengan pinset anatomis mengambil kateter dan diberi pelumas pada ujungnya
16. Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan 5-7 cm atau sampai uring keluar, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok
18. Bila kateter dipasang tetap/ permanen maka kateter terkunci memakai I spuit dan aquadest steril (mengisi balon) sebanyak 10-15 cc
19. Menyambung kateter dengan urobag/urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di iguinal.
21. Klien dirapikan dan alat-alat dibereskan
22. Mencuci tangan
23. Dukumentasikan prosedur yang telah dilakukan: ukuran kateter, jumlah dan karakter urin.
24. Evaluasi klien setelah terpasang kateter
25. Rapikan alat-alat
26. Cuci tangan
27. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Pada Pasien Pria
1. Perawat cuci tangan
2. Perawat berdiri di samping kanan klien
3. Atur posisi pasien : terlentang
4. Beri alas perlak di bawah klien
5. Tutup pasien dengan selimut mandi
6. Buka pembungkus kateter dengn teknik aseptik
7. Buka urin bag
8. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
9. Letakkan bengkok di dekat klien
10. Pakai sarung tangan steril
11. Pakai duk steril
12. Tangan kiri perawat memegang penis ke atas
13. Preputium ditarik sedikit ke pangkalnya dan dibersihkan dengan desinfeksi
14. Penis agak ditarik supaya lurus, dan kateter yang diberi pelumas dimasukkan perlahan-lahan, anjurkan pasien untuk nafas panjang
15. Masukkan kateter 17 - 22 cm atau sampai urine keluar
16. Jika urine sudah keluar, masukkan lagi sampai mentok
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok atau botol steril.
18. Bila kateter dipasang tetap/permanen maka kateter dikunci memakai spuit dan aquadest steril (mengisi balon)
19. Menyambung kateter dengan urobag/ urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di paha atau abdomen bawah
21. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
28. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
III. SOP PEMASANGAN INFUS IV
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Infus IV
Pengertian Adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum kee dalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Indikasi Kehilangan cairan tubuh dan komponen darah (perdarahan, trauma abdomen, fraktur, heat stoke, diare dan demam luka bakar luas)
Tujuan Rehidrasi
Resusitasi
Medikasi
Nutrisi
Maintenance
Pesiapan Alat-alat : 1. Infuse set steril
2. Cairan infuse yang dibutuhkan
3. Abocath no 18, 20, 22, 24
4. Kapas alcohol
5. Betadine
6. Toumiquet (karet pembendung)
7. Perlat dan alasnya
8. Spalk (k.p)
9. Bengkok
10. Kain kassa steril dalam tempatnya
11. Korentang dalam tempatnya
12. Plester dan gunting verban
13. Gantungan/ standart infuse
14. Jam tangan
15. Alat tulis
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberi tahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengatur letak baring pasien
4. Buka kemasan steril dengan teknik aseptic
5. Periksa larutandengan teknik 6 benar
6. Buka set infuse dengan memperhatikan sterilitas
7. Tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm dibawa ruang drip dan gerakan klem rol pada posisi off
8. Tusukkan set infuse ke dalam botol dan alirkan cairang ke dalam selang, dengan menekan ruang drip
9. Yakinkan selang bersi dari udara
10. Pakai sarung tangan disposible
11. Menyiapkan area yang akan ditusuk
12. Menutup jarum infuse dengan penutupnya
13. Memasang pengalas dibawah anggota badan yang akan dipasang infuse
14. Stuwig/ bendung dengan menggunakan tourniquet (karet pembendung)
15. Menghapus hamakan kulit dengan kapas alkohol
16. Menusukkan jarum infuse ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas
17. Tourniquet dilepas bila darah sudah masuk selang
18. Menutup bagian yang ditusuk dengan kassa steril yang sudah diberi betadine
19. Menghitung tetesan infuse, jika perlu pasang spalk
20. Memperhatikan reaksi pasien
21. Merapikan pasien
22. Membereskan alat
23. Perawatan cuci tangan
24. Mendokumentasikan tindakan.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
IV. SOP PERAWATAN LUKA
A. Perawatan Luka dengan Balutan Basah dan Lembab (kompres)
Pengertian Tindakan perawatan luka dan kompres yang membutuhkan balutan basah atau lembab.
Tujuan 1. Mencegah, membatasi, atau mengontrol infeksi
2. Mengangkat jaringan nekrotik untuk meningkatkan penyembuhan luka.
3. Menyerap drainase (eksudat)
4. Mempertahankan lingkungan luka yang lembap.
5. Mengompres mata
Indikasi 1. Luka kronis dan banyak drainase/ pus
2. Luka yang banyak kehilangan jaringan kulit
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set steril sesuai kebutuhan
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barang steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli.
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Cek instruksi dokter dan rencana perawatan
2. Siapkan alat-alat, termasuk, peralatan steril dii meja/ troli.
3. Identifikasi pasien, jelaskan tujuan dan prosedur
4. Berikan privasi
5. Tinggikan tempat tidur dan turunkan penghalang tempat tidur untuk bekerja di samping pasien
6. Tempatkan kantong untuk meletakkan balutan yang kotor di dekat pasien
7. Cuci tangan
8. Bentangkan perlak di bawah daerah yang akan diganti balutan
9. Pakai sarung tangan bersih (tidak steril)
10. Lepaskan plester ke arah luka atau buka ikatan balutan
11. Tuang larutan normal saline pada balutan
12. Lepaskan kasa satu per satu, lalu buang ke kantong plastic
13. Lepaskan sarung tangan
14. Buka set steril dengan tetap mempertahankan kesterilan alat.
15. Tuang larutan normal saline ke dalam kopyes dan letakkan beberapa potong kasa di daerah steril tersebut.
16. Pakai sarung tangan steril
17. Bersihkan area luka menggunakan kasa, tekan kasa pada daerah depresi atau lubang
18. Kaji luka, ukur, identifikasi tipe, dan tentukan apakah ada tanda-tanda infeksi
19. Bentangkan kasa lembap dan basah dalam lapisan tunggal dan tempatkan di bagian atas menutupi seluruh area.
20. Kemudian, tutup dengan kasa kering pada balutan untuk menahannya
21. Lepaskan sarung tangan dan masukkan ke dalam kantong sampah infeksius
22. Plester hanya pada bagian ujung-ujung balutan, plester mentgomeri dapat digunakan untuk mencegah iritasi kulit yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan oleh ganti balutan yang sering. Untuk daerah tertentu, dapat ditambah gulungan untuk memperkuat fiksasi.
23. Kembalikan pasien ke posisi semula. Turunkan tempat tidur dan kembali naikkan penghalang tempat tidur.
24. Buang materi yang kotor ke dalam wadah yang tepat (sampah infeksius)
25. Cuci tangan
26. Bereskan alat-alat
27. Catat dalam rekam medik
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Perawatan Luka dengan Balutan Kering
Pengertian Tindakan pembersihan luka dan penggnatian balutan kering
Tujuan 1. Mencegah infeksi sekunder
2. Luka bersih dan kering
3. Meminimalkan mikroorganisme
Indikasi Untuk luka atau insisi pembedahan yang mempunyai drainase minimal dan tidak ada jaringan yang hilang.
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set alat steril sesuai kebutuhan.
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barnag steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1 – 18 seperti pada perawatan luka dengan balutan bersih
2. Jika ada selang drain, bersihkan area drain dan sekitar area dengan gerakan sirkulasi (memutar kea rah luar). Jangan menggunakan zat kimia sitotoksik atau yang berbahaya
3. Pasang beberapa kasa pada drain
4. Tutup daerah luka dengan kasa steril
5. Lakukan prosedur 21 – 27 seperti pada perawatan luka dengan balutan basah.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
V. SOP INJEKSI INTRA VENA (IV), INTRA MUSKULAR (IM), INTRA CUTAN (IC), SUB CUTAN (SC)
A. Injeksi Intra Kutan (IK)
Pengertian Memasukkan obat ke dalam jaringan kulit
Tujuan 1. Mendapatkan reaksi setempat pada tes alergi.
2. Mendapatkan kekebalan pada imunisasi
Lokasi Injeksi 1. Lengan bawah
Bagian depan lengan (valor), sepertiga dari lekukan siku atau dua pertiga dari pergelangan tangan. Pada kulit yang sehat, jauh dari pembunuh darah, untuk tes mantoux dan tes alergi.
2. Lenga atas
Tiga jari di bawah sendi baru, di tengah-tengah daerah muskulus deltoideus, untuk BCG.
Indikasi Dilakukan pada pasien yang mendapatkan suntikan kekebalan atau menetukan reaksi dari obat
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuil 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, (naCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan.
Prosedur 1. Periksa program terapi
2. Siapkan obat, baca label, baca batas kadaluwarsa
3. Hitung dosis obat dengan tepat
4. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
5. Bawa alat-alat ke dekat pasien
6. Cuci tangan
7. Jaga privasi pasien
8. Atur posisi pasien
9. Pasang perlak dan pengalas
10. Bebaskan daerah yang akan diinjeksi dari pakaian. Pastikan lokasi/tempat yang dipilih bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak, dan randang.
11. Pakai sarung tangan
12. Hisap obat ke dalam spuit, pastikan tidak ada udara di dalam tabung spuit
13. Tentukan tempat penyuntikan dengan benar.
14. Desinfeksi menggunakan kapas alkohol secara melinkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering. Pada imunisasi BCG, digunakan kaps basah tanpa alkohol.
15. Rengankan kulit, pasien menggunakan dua jari tangan kiri (non-dominan), kemudian jarum ditusukkan perlahan-lahn dengan luban jarum mengarah ke atas dengan sudut 15-20˚ pada permukaan kulit.
16. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung, tarik spuit dan jagan dilakukan pengurutang/massage.
17. Letakkan spuit ke dalam bengkok
18. Lepaskan sarung tangan
19. Rapikan pasien
20. Bereskan alat-alat dan simpan pada tempatnya
21. Cuci tangan
22. Catat obat yang telah diberikan
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Injeksi Sub Kutan (SK)
Pengertian Memberikan obat sutikan di bawah kulit
Tujuan Untuk memberinkan obat tertentu, misalnya insulin dan heparin yang membutuhkan penyerapan lebih lama serta kekebalan.
Indikasi 1. Diberikan pasien yang memdapatkan suntikan dengan rekomendasi pemberian subtukan, seperti isulin dan heparin
2. Untuk mendapat kekebalan DPT.
Lokasi Injeksi SK 1. Lengan atas sebelah luar atau sepertiga bagian dari bahu
2. Paha sebelah luar
3. Daera dada.
4. Sekitar umbilicus (abdomen)
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang perlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-14 seperti injeksi intra kutan
2. Angkat sedikit kulit menggunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, kemudian tusukkan jarum perlahan-lahan dengan sudut 45-90˚, gunakan jarum ukuran 27 G atau jarum insulin.
3. Lakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk, selanjutnya msukkan obat perlahan;lahan sampai habis atau seesuai dosis. Jangan dilakukan pengurutang/massage.
4. Setelah obat masuk semua, tarik spuit dan olesi daerah tusukan dengan kapas alkohol
5. Lakukan prosedur 17-22 injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
C. Injeksi Intra Muskular (IM)
Pengertian Pemberian obat dengan cara memasukkan langsung ke dalam otot
Tujuan Mempercepat penyerapan obat
Lokasi Injeksi IM 1. Otot dorsogluteal
2. Otot ventrogluteal
3. Otot vastus lateralis
4. Otot deltoid
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 2,5-5 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-11 seperti pada injeksi intra kutan
2. Hisap obat ke dalam tabung spuit. Tambahkan 0,2 ml udara ke dalam tabung. Tutup jarum kembali.
3. Atur posisi pasien sesuai dengan lokasi yang dipilih
a. Dorsogluteal : posisi prone, pasien berbaring telungkup
b. Ventrogluteal : posisi sims, pasien berbaring miring membelakangi perawat dengan pangkal paha dan lutut dan kaki atas ditekuk
c. Vastus lateralis : pasien berbaring dengan posisi miring atau mengambil posisi duduk
d. Deltoid : pasien duduk atau berbaring dengan tangan santai (rileks)
4. Desinfeksi menggunakan kapas alakohol secara melingkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering
5. Buka penutup jarum dengan hati-hati
6. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit (non dominan) untuk meregangkan kulit pada area yangakan ditusuk dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk bagi pasien gemuk. Bagi pasien kurus, cubit kulit beserta jaringan di bawahnya.
7. Pegang spuit antara jempol atau ibu jari, kemudian dengan cepat tusukkan jarum spuit secara tegak lurus (dengan sudut 90˚) hingga jarum masuk 2/3 bagian
8. Tangan kiri (non dominan) segera pindah untuk memegang spuit dari bawah dan tangan kanan (dominan) memegang ujung barrel (pendorong spuit)
9. Lakukan aspirasi secara perlahan dengan cara menarik sedikit ujung barrel dan pastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah dengan tidak ada darah yang masuk ke dalam spuit. Jika terdapat darah di dalam spuit, segera cabut spuit dan buang spuit bersama obatnya. Suntik kembali set baru di tenpat lain.
10. Jika tidak ada darah setelah sedikit aspirasi, dorong cairan obatsecara perlahan
11. Setelah obat masuk seluruhnya, tarik jarum injeksi dengan cepat, tekan daerah penusukan dengan kapas alkohol.
12. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
D. Injeksi Intra Vena (IV)
Pengertian Pemberian obat/cairan dengan cara menusukkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.
Tujuan Mempercepat reaksi obat karena langsung masuk ke peredaran darah.
Lokasi Injeksi IV 1. Lengan (vena mediana cubiti, vena chepalia)
2. Tungkai (vena sapheneus)
3. Leher (vena yugularis, khusus pada anak)
4. Kepala (vena frontalis/ vena temporalis, khusus pada anak)
Pesiapan Alat-alat : Sama pada persiapan alat pada injeksi intra kutan. Ukuran spuit beragam
Karet pembendung
Plester, kasa, dan gunting.
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-13 seperti pada injeksi intra kutan
2. Ikat bagian atas daerah yang akan disuntik dengan karet pembendung agar vena mudah dirabah/ dilihat. Untuk bagian lengan, pasien dianjurkan untuk mengepalkan tangan
3. Desinfeksi kulit dengan kapas alkohol melingkar dari arah dalam keluar. Biarkan kering, buang kapas ke bengkok
4. Tusuk vena dengan kemiringan 15-30˚ dan lubang jarum menghadap ke atas
5. Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke dalam spuit
6. Minta pasien untuk membuka kepalan secara perlahan kemudian buka karet pembendung
7. Masukkan obat secara perlahan
8. Setelah obat masuk semua, cabut spuit sambil menekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol, lalu diplester.
9. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
VI. SOP MEMBERIKAN OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, NASAL KATETER, DAN MASKER
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memberikan O2 Nasal kanul, Nasal kateter, dan Masker.
Pengertian Memberikan tambahan oksigen pada klien yang membutuhkan (Kusyati, Erni. (2006)
Indikasi 1. Adanya gangguan penyakit pernafasan (missal: COPD, Pneumonia, Atelektasis)
2. Gangguan pada kardiovaskular (Misal: IMA, Angina Pectoris, distrimia)
3. Gangguan pada SSP (Misal: overdosis narcotic, anestesi)
4. Klien dengan kondisi peningkatan kerja nafas (laju, kedalaman, penggunaan kerja otot tambahan)
Tujuan 1. Mencegah dan mengatasi keadaan hypoxsemia
2. Menurunkan kerja nafas dan miokard
Pengkajian TTV, status pernafasan (frekuensi, kedalaman, penggunaan otot bantu pernafasan, hasil AGD (analisa gas darah), tanda hipoksemia.
Persiapan Pasien 1. Menjelaskan prosedur dan tujuan yang akan dilakukan
2. Memberikan posisi klien yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pasien
Pesiapan Alat-alat : 1. Tabung oksigen dengan flow meter dan huminidifier
2. Nasal kanul, masker, kanul sesuai ukuran
3. Aquades
4. Jeli
5. Alat tulis dan lembar observasi
6. handscoen
Persiapan Lingkungan Memberikan lingkungan yang aman dan nyaman (letakkan label bertuliskan “DILARANG MEROKOK”)
Prosedur 1. Mencuci tangan
2. Mengatur peralatan oksigen dan humidifier
3. Mengecek flow meter, humidifier dan air pada tabung humidifier
4. Menghubungkan selang nasal kanul/ masker/ kanul pada tabung oksigen
5. Mengontrol apakah peralatan berfungsi
A. CARA PEMBERIAN NASAL KANUL
1. Membuka aliran oksigen untuk menetukan
Kecepatan antara 1-5 liter/menit (sesuai program terapi)
2. Memasukan nasal kanule ke dalam lubang hidung pasien
3. Memfiksasi dan mempeertahankan selang oksigen cukup kendur
4. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
5. Mengantur aliran O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan aliran oksigen sesuai promgam terapi dan membersihkan nasal kanule setiap 8 jam
B. CARA PEMBERIAN MASKER
1. +Memasang an masker pada wajah klien dari hidung ke bawah
2. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
3. Mengantur aliran oksigen sesuai program terapi (antara 5-8 liter/menit untuk maker sederhana)
4. Mencuci tangan
5. Memeriksa secempatang aliran oksigen sesuai program terapi dan besihkan muka dan masker setiap 8 jam
C. CARA PEMBERIAN NASAL KATETER
1. Memakai handcoen
2. Mengukur panjang nasal kateter
3. Member jeli pada nasal kateter
4. Memasukan secara hati-hati ke dalam hidung
5. Mengantur alirang O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan alirang oksigen sesuai terapi dan menganti kateter minimal 8 jam.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
I. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMASANGAN NGT
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang NGT
Pengertian Nutrisi enternal adalah nutrient yang diberikan melalui saluran gastrointestinal. Pemasangan NGT adalah pemasangan selang plastic lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. (Potter and Perry, 2003)
Indikasi Klien tidak sadar / koma
Klien dengan masalah saluran pencernaan (stenosis oesofagus, tumor saluran pencernaan)
Klien dengan ketidakmampuan menelan/ atau tidak mungkin dilakukan pada saluran pencernaan.
Tujuan Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair atau padat yang sudah dicairkan
Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
Mengirigasi karena adanya perdarahan/ keracunan dalam lambung
Mencegah/ mengurangi mual dan muntah setelah pembedahan atau trauma
Mengambil/ specimen pada lambung untuk pemeriksaan laboratorium.
Pesiapan Alat-alat : 1. Sonde lambung/ pipa penduga pada tempatnya
2. Tongue spatel
3. Mangkuk berisi air
4. Corong spuit 20 cc, 30 cc, atau 50 cc
5. Pinset anatomis 1 buah
6. Klem
7. Plester gunting
8. Jelly
9. Stetoskop
10. Tissue, handuk
11. Bengkok
12. Sketsel
13. Perlak dan alasnya
Pesiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel
Prosedur 1. Letakkan alat ke samping klien
2. Cuci tangan
3. Bantu klien pada posisi high fowler
4. Pasang handuk di dada klien, letakkan tissue wajah dalam jangkauan klien
5. Memakai sarung tangan
6. Anjurkan klien untuk rileks dan bernafas dengan menutup satu hidung, kemudian mengulani satu yang lain
7. Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan : Ukur jarak dari puncak hidung ke daun telinga bawah dan ke processus xiphoideus di sternum, dan diberi tanda plester.
8. Oleskan jelly pada NGT sepanjang 10 – 20 cm
9. Posisikan klien ekstensi. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan putar selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan.
10. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas dengan mulut.
11. Jika ada hambatan atau klien tersedak. Sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang tenggorok dengan menggunakan tongue spatel dan senter.
12. Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan klien rileks dan bernafas normal
13. Periksa letak selang dengan :
Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas klien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen.
Mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan cairan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT ke dalam mangkuk yang mengisi air. Jika terdapat gelembung udara berarti selang masuk ke dalam paru-paru. Tidak terdapat gelembung udara, selang masuk ke dalam lambung.
14. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
15. Evaluasi klien setelah terpasang NGT
16. Rapikan alat-alat
17. Cuci tangan
18. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe NGT
Waktu pemasangan
Respon klien
Evaluasi Sikap Bekerja dengan catatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Sabar, Sopan, Komunikatif
II. SOP PEMASANGAN KATETER URINE (PRIA & WANITA)
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Kateter Urine
Pengertian Kateter adalah suatu selang untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan
Kateterisasi urinarius adalah memasukkan kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih dengan tujuan untuk mengeluarkan urin (Potter and Perry, 2003)
Tujuan Menghilangkan distensi kandung kemih
Mendapatkan spesimen urine
Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
Kontra Indikasi Pasien dengan Hematuria ( keluar dari uretra )
Pesiapan Alat-alat : 1. Baki
2. Kateter steril, ukuran disesuaikan dengan pasien (wanita : 14 – 16 French, Pria : 18 – 20 Fr, Anak : 8 – 10 Fr)
urobag / Urine Bag
3. Kapas sublimat/ kapas savlon steril dalam tempatnya
4. Kassa
5. Korentang
6. Cairan pelumas/ Jelly
7. Perlak
8. Bengkok 2 buah (untuk kasa kotor dan penampung urine)
9. Pinset anatomis
10. Duk steril
11. Spuit dan aquades
12. Sketsel
13. Sarung tangan steril
14. Plester
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien Menjelaskan prosedur
Persiapan Lingkungan Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur Pada Pasien Perempuan :
1. Alat didekatkan ke klien
2. Perawat cuci tangan
3. Perawat berdiri di samping kanan klien
4. Atur posisi pasien (dorsal recumbent)
5. Beri alas perlak di bawah klien
6. Tutup pasien dengan selimut mandi
7. Buka pembungkus kateter dengan teknik aseptik
8. Buka urine bag
9. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
10. Letakkan bengkok ke dekat pasien
11. Pakai sarung tangan steril
12. Pasang duk steril
13. Membuka labia minora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
14. Vulva dibersihkan dangan kapas savlon 5 buah/ betadine yang diencerkan (dari atas ke bawah, kapas kotor diletakkan di bengkok).
15. Dengan menggunankan sarutng tagang steril atau dengan pinset anatomis mengambil kateter dan diberi pelumas pada ujungnya
16. Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan 5-7 cm atau sampai uring keluar, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok
18. Bila kateter dipasang tetap/ permanen maka kateter terkunci memakai I spuit dan aquadest steril (mengisi balon) sebanyak 10-15 cc
19. Menyambung kateter dengan urobag/urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di iguinal.
21. Klien dirapikan dan alat-alat dibereskan
22. Mencuci tangan
23. Dukumentasikan prosedur yang telah dilakukan: ukuran kateter, jumlah dan karakter urin.
24. Evaluasi klien setelah terpasang kateter
25. Rapikan alat-alat
26. Cuci tangan
27. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Pada Pasien Pria
1. Perawat cuci tangan
2. Perawat berdiri di samping kanan klien
3. Atur posisi pasien : terlentang
4. Beri alas perlak di bawah klien
5. Tutup pasien dengan selimut mandi
6. Buka pembungkus kateter dengn teknik aseptik
7. Buka urin bag
8. Isi spuit dengan aquadest 10 – 15 cc untuk mengisi balon kateter
9. Letakkan bengkok di dekat klien
10. Pakai sarung tangan steril
11. Pakai duk steril
12. Tangan kiri perawat memegang penis ke atas
13. Preputium ditarik sedikit ke pangkalnya dan dibersihkan dengan desinfeksi
14. Penis agak ditarik supaya lurus, dan kateter yang diberi pelumas dimasukkan perlahan-lahan, anjurkan pasien untuk nafas panjang
15. Masukkan kateter 17 - 22 cm atau sampai urine keluar
16. Jika urine sudah keluar, masukkan lagi sampai mentok
17. Urine yang keluar ditampung dalam bengkok atau botol steril.
18. Bila kateter dipasang tetap/permanen maka kateter dikunci memakai spuit dan aquadest steril (mengisi balon)
19. Menyambung kateter dengan urobag/ urine bag
20. Fiksasi kateter dengan plester di paha atau abdomen bawah
21. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
28. Dokumentasikan hasil tindakan :
Ukuran dan tipe kateter
Waktu pemasangan
Respon klien dan jenis serta jumlah cairan urine yang keluar.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
III. SOP PEMASANGAN INFUS IV
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memasang Infus IV
Pengertian Adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum kee dalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Indikasi Kehilangan cairan tubuh dan komponen darah (perdarahan, trauma abdomen, fraktur, heat stoke, diare dan demam luka bakar luas)
Tujuan Rehidrasi
Resusitasi
Medikasi
Nutrisi
Maintenance
Pesiapan Alat-alat : 1. Infuse set steril
2. Cairan infuse yang dibutuhkan
3. Abocath no 18, 20, 22, 24
4. Kapas alcohol
5. Betadine
6. Toumiquet (karet pembendung)
7. Perlat dan alasnya
8. Spalk (k.p)
9. Bengkok
10. Kain kassa steril dalam tempatnya
11. Korentang dalam tempatnya
12. Plester dan gunting verban
13. Gantungan/ standart infuse
14. Jam tangan
15. Alat tulis
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberi tahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengatur letak baring pasien
4. Buka kemasan steril dengan teknik aseptic
5. Periksa larutandengan teknik 6 benar
6. Buka set infuse dengan memperhatikan sterilitas
7. Tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm dibawa ruang drip dan gerakan klem rol pada posisi off
8. Tusukkan set infuse ke dalam botol dan alirkan cairang ke dalam selang, dengan menekan ruang drip
9. Yakinkan selang bersi dari udara
10. Pakai sarung tangan disposible
11. Menyiapkan area yang akan ditusuk
12. Menutup jarum infuse dengan penutupnya
13. Memasang pengalas dibawah anggota badan yang akan dipasang infuse
14. Stuwig/ bendung dengan menggunakan tourniquet (karet pembendung)
15. Menghapus hamakan kulit dengan kapas alkohol
16. Menusukkan jarum infuse ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas
17. Tourniquet dilepas bila darah sudah masuk selang
18. Menutup bagian yang ditusuk dengan kassa steril yang sudah diberi betadine
19. Menghitung tetesan infuse, jika perlu pasang spalk
20. Memperhatikan reaksi pasien
21. Merapikan pasien
22. Membereskan alat
23. Perawatan cuci tangan
24. Mendokumentasikan tindakan.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
IV. SOP PERAWATAN LUKA
A. Perawatan Luka dengan Balutan Basah dan Lembab (kompres)
Pengertian Tindakan perawatan luka dan kompres yang membutuhkan balutan basah atau lembab.
Tujuan 1. Mencegah, membatasi, atau mengontrol infeksi
2. Mengangkat jaringan nekrotik untuk meningkatkan penyembuhan luka.
3. Menyerap drainase (eksudat)
4. Mempertahankan lingkungan luka yang lembap.
5. Mengompres mata
Indikasi 1. Luka kronis dan banyak drainase/ pus
2. Luka yang banyak kehilangan jaringan kulit
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set steril sesuai kebutuhan
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barang steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli.
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Cek instruksi dokter dan rencana perawatan
2. Siapkan alat-alat, termasuk, peralatan steril dii meja/ troli.
3. Identifikasi pasien, jelaskan tujuan dan prosedur
4. Berikan privasi
5. Tinggikan tempat tidur dan turunkan penghalang tempat tidur untuk bekerja di samping pasien
6. Tempatkan kantong untuk meletakkan balutan yang kotor di dekat pasien
7. Cuci tangan
8. Bentangkan perlak di bawah daerah yang akan diganti balutan
9. Pakai sarung tangan bersih (tidak steril)
10. Lepaskan plester ke arah luka atau buka ikatan balutan
11. Tuang larutan normal saline pada balutan
12. Lepaskan kasa satu per satu, lalu buang ke kantong plastic
13. Lepaskan sarung tangan
14. Buka set steril dengan tetap mempertahankan kesterilan alat.
15. Tuang larutan normal saline ke dalam kopyes dan letakkan beberapa potong kasa di daerah steril tersebut.
16. Pakai sarung tangan steril
17. Bersihkan area luka menggunakan kasa, tekan kasa pada daerah depresi atau lubang
18. Kaji luka, ukur, identifikasi tipe, dan tentukan apakah ada tanda-tanda infeksi
19. Bentangkan kasa lembap dan basah dalam lapisan tunggal dan tempatkan di bagian atas menutupi seluruh area.
20. Kemudian, tutup dengan kasa kering pada balutan untuk menahannya
21. Lepaskan sarung tangan dan masukkan ke dalam kantong sampah infeksius
22. Plester hanya pada bagian ujung-ujung balutan, plester mentgomeri dapat digunakan untuk mencegah iritasi kulit yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan oleh ganti balutan yang sering. Untuk daerah tertentu, dapat ditambah gulungan untuk memperkuat fiksasi.
23. Kembalikan pasien ke posisi semula. Turunkan tempat tidur dan kembali naikkan penghalang tempat tidur.
24. Buang materi yang kotor ke dalam wadah yang tepat (sampah infeksius)
25. Cuci tangan
26. Bereskan alat-alat
27. Catat dalam rekam medik
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Perawatan Luka dengan Balutan Kering
Pengertian Tindakan pembersihan luka dan penggnatian balutan kering
Tujuan 1. Mencegah infeksi sekunder
2. Luka bersih dan kering
3. Meminimalkan mikroorganisme
Indikasi Untuk luka atau insisi pembedahan yang mempunyai drainase minimal dan tidak ada jaringan yang hilang.
Pesiapan Alat-alat : 1. Satu set alat steril sesuai kebutuhan.
2. Plester
3. Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu
4. Sarung tangan bersih
5. Sarung tangan steril
6. Larutan normal saline steril (NaCl 0,9%)
7. Kantong sampah infeksius
8. Perlak dan alasnya
9. Tempat penyimpanan barnag steril, seperti bengkok (piala ginjal) dan mangkuk steril (kopyes) di atas troli
Persiapan Perawat Cuci tangan
Kaji status pasien dan cek instruksi dokter
Pilih tipe/ ukuran kateter yang spesifik
Kaji pengumpulan urine
Persiapan Pasien 1. Memberitahu tahu dan menjelaskan tujuan tindakan
2. Menyiapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
Persiapan Lingkungan Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Memasang sketsel/ sampiran
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1 – 18 seperti pada perawatan luka dengan balutan bersih
2. Jika ada selang drain, bersihkan area drain dan sekitar area dengan gerakan sirkulasi (memutar kea rah luar). Jangan menggunakan zat kimia sitotoksik atau yang berbahaya
3. Pasang beberapa kasa pada drain
4. Tutup daerah luka dengan kasa steril
5. Lakukan prosedur 21 – 27 seperti pada perawatan luka dengan balutan basah.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
V. SOP INJEKSI INTRA VENA (IV), INTRA MUSKULAR (IM), INTRA CUTAN (IC), SUB CUTAN (SC)
A. Injeksi Intra Kutan (IK)
Pengertian Memasukkan obat ke dalam jaringan kulit
Tujuan 1. Mendapatkan reaksi setempat pada tes alergi.
2. Mendapatkan kekebalan pada imunisasi
Lokasi Injeksi 1. Lengan bawah
Bagian depan lengan (valor), sepertiga dari lekukan siku atau dua pertiga dari pergelangan tangan. Pada kulit yang sehat, jauh dari pembunuh darah, untuk tes mantoux dan tes alergi.
2. Lenga atas
Tiga jari di bawah sendi baru, di tengah-tengah daerah muskulus deltoideus, untuk BCG.
Indikasi Dilakukan pada pasien yang mendapatkan suntikan kekebalan atau menetukan reaksi dari obat
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuil 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, (naCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan.
Prosedur 1. Periksa program terapi
2. Siapkan obat, baca label, baca batas kadaluwarsa
3. Hitung dosis obat dengan tepat
4. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
5. Bawa alat-alat ke dekat pasien
6. Cuci tangan
7. Jaga privasi pasien
8. Atur posisi pasien
9. Pasang perlak dan pengalas
10. Bebaskan daerah yang akan diinjeksi dari pakaian. Pastikan lokasi/tempat yang dipilih bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak, dan randang.
11. Pakai sarung tangan
12. Hisap obat ke dalam spuit, pastikan tidak ada udara di dalam tabung spuit
13. Tentukan tempat penyuntikan dengan benar.
14. Desinfeksi menggunakan kapas alkohol secara melinkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering. Pada imunisasi BCG, digunakan kaps basah tanpa alkohol.
15. Rengankan kulit, pasien menggunakan dua jari tangan kiri (non-dominan), kemudian jarum ditusukkan perlahan-lahn dengan luban jarum mengarah ke atas dengan sudut 15-20˚ pada permukaan kulit.
16. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung, tarik spuit dan jagan dilakukan pengurutang/massage.
17. Letakkan spuit ke dalam bengkok
18. Lepaskan sarung tangan
19. Rapikan pasien
20. Bereskan alat-alat dan simpan pada tempatnya
21. Cuci tangan
22. Catat obat yang telah diberikan
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
B. Injeksi Sub Kutan (SK)
Pengertian Memberikan obat sutikan di bawah kulit
Tujuan Untuk memberinkan obat tertentu, misalnya insulin dan heparin yang membutuhkan penyerapan lebih lama serta kekebalan.
Indikasi 1. Diberikan pasien yang memdapatkan suntikan dengan rekomendasi pemberian subtukan, seperti isulin dan heparin
2. Untuk mendapat kekebalan DPT.
Lokasi Injeksi SK 1. Lengan atas sebelah luar atau sepertiga bagian dari bahu
2. Paha sebelah luar
3. Daera dada.
4. Sekitar umbilicus (abdomen)
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 1 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang perlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades, NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-14 seperti injeksi intra kutan
2. Angkat sedikit kulit menggunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, kemudian tusukkan jarum perlahan-lahan dengan sudut 45-90˚, gunakan jarum ukuran 27 G atau jarum insulin.
3. Lakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk, selanjutnya msukkan obat perlahan;lahan sampai habis atau seesuai dosis. Jangan dilakukan pengurutang/massage.
4. Setelah obat masuk semua, tarik spuit dan olesi daerah tusukan dengan kapas alkohol
5. Lakukan prosedur 17-22 injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
C. Injeksi Intra Muskular (IM)
Pengertian Pemberian obat dengan cara memasukkan langsung ke dalam otot
Tujuan Mempercepat penyerapan obat
Lokasi Injeksi IM 1. Otot dorsogluteal
2. Otot ventrogluteal
3. Otot vastus lateralis
4. Otot deltoid
Pesiapan Alat-alat : Bak berisi :
1. Bak steril
2. Spuit 2,5-5 ml dan jarumnya
3. Obat sesuai dengan yang diperlukan
4. Kapas alkohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut (aquades NaCI)
6. Perlak dan alasnya
7. Bengkok (piala ginjal)
8. Rekam medic
9. Buku dan alat tulis
10. Sarung tangan
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-11 seperti pada injeksi intra kutan
2. Hisap obat ke dalam tabung spuit. Tambahkan 0,2 ml udara ke dalam tabung. Tutup jarum kembali.
3. Atur posisi pasien sesuai dengan lokasi yang dipilih
a. Dorsogluteal : posisi prone, pasien berbaring telungkup
b. Ventrogluteal : posisi sims, pasien berbaring miring membelakangi perawat dengan pangkal paha dan lutut dan kaki atas ditekuk
c. Vastus lateralis : pasien berbaring dengan posisi miring atau mengambil posisi duduk
d. Deltoid : pasien duduk atau berbaring dengan tangan santai (rileks)
4. Desinfeksi menggunakan kapas alakohol secara melingkar dari dalam keluar, tunggu sampai kering
5. Buka penutup jarum dengan hati-hati
6. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit (non dominan) untuk meregangkan kulit pada area yangakan ditusuk dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk bagi pasien gemuk. Bagi pasien kurus, cubit kulit beserta jaringan di bawahnya.
7. Pegang spuit antara jempol atau ibu jari, kemudian dengan cepat tusukkan jarum spuit secara tegak lurus (dengan sudut 90˚) hingga jarum masuk 2/3 bagian
8. Tangan kiri (non dominan) segera pindah untuk memegang spuit dari bawah dan tangan kanan (dominan) memegang ujung barrel (pendorong spuit)
9. Lakukan aspirasi secara perlahan dengan cara menarik sedikit ujung barrel dan pastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah dengan tidak ada darah yang masuk ke dalam spuit. Jika terdapat darah di dalam spuit, segera cabut spuit dan buang spuit bersama obatnya. Suntik kembali set baru di tenpat lain.
10. Jika tidak ada darah setelah sedikit aspirasi, dorong cairan obatsecara perlahan
11. Setelah obat masuk seluruhnya, tarik jarum injeksi dengan cepat, tekan daerah penusukan dengan kapas alkohol.
12. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
D. Injeksi Intra Vena (IV)
Pengertian Pemberian obat/cairan dengan cara menusukkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.
Tujuan Mempercepat reaksi obat karena langsung masuk ke peredaran darah.
Lokasi Injeksi IV 1. Lengan (vena mediana cubiti, vena chepalia)
2. Tungkai (vena sapheneus)
3. Leher (vena yugularis, khusus pada anak)
4. Kepala (vena frontalis/ vena temporalis, khusus pada anak)
Pesiapan Alat-alat : Sama pada persiapan alat pada injeksi intra kutan. Ukuran spuit beragam
Karet pembendung
Plester, kasa, dan gunting.
Prosedur 1. Lakukan prosedur 1-13 seperti pada injeksi intra kutan
2. Ikat bagian atas daerah yang akan disuntik dengan karet pembendung agar vena mudah dirabah/ dilihat. Untuk bagian lengan, pasien dianjurkan untuk mengepalkan tangan
3. Desinfeksi kulit dengan kapas alkohol melingkar dari arah dalam keluar. Biarkan kering, buang kapas ke bengkok
4. Tusuk vena dengan kemiringan 15-30˚ dan lubang jarum menghadap ke atas
5. Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke dalam spuit
6. Minta pasien untuk membuka kepalan secara perlahan kemudian buka karet pembendung
7. Masukkan obat secara perlahan
8. Setelah obat masuk semua, cabut spuit sambil menekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol, lalu diplester.
9. Lakukan prosedur 17-22 seperti pada injeksi intra kutan.
Evaluasi Sikap Menunjukkan sikap sopan dan ramah
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Bekerja dengan teliti
VI. SOP MEMBERIKAN OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, NASAL KATETER, DAN MASKER
STANDAR OPERATING PROCEDURE
Memberikan O2 Nasal kanul, Nasal kateter, dan Masker.
Pengertian Memberikan tambahan oksigen pada klien yang membutuhkan (Kusyati, Erni. (2006)
Indikasi 1. Adanya gangguan penyakit pernafasan (missal: COPD, Pneumonia, Atelektasis)
2. Gangguan pada kardiovaskular (Misal: IMA, Angina Pectoris, distrimia)
3. Gangguan pada SSP (Misal: overdosis narcotic, anestesi)
4. Klien dengan kondisi peningkatan kerja nafas (laju, kedalaman, penggunaan kerja otot tambahan)
Tujuan 1. Mencegah dan mengatasi keadaan hypoxsemia
2. Menurunkan kerja nafas dan miokard
Pengkajian TTV, status pernafasan (frekuensi, kedalaman, penggunaan otot bantu pernafasan, hasil AGD (analisa gas darah), tanda hipoksemia.
Persiapan Pasien 1. Menjelaskan prosedur dan tujuan yang akan dilakukan
2. Memberikan posisi klien yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pasien
Pesiapan Alat-alat : 1. Tabung oksigen dengan flow meter dan huminidifier
2. Nasal kanul, masker, kanul sesuai ukuran
3. Aquades
4. Jeli
5. Alat tulis dan lembar observasi
6. handscoen
Persiapan Lingkungan Memberikan lingkungan yang aman dan nyaman (letakkan label bertuliskan “DILARANG MEROKOK”)
Prosedur 1. Mencuci tangan
2. Mengatur peralatan oksigen dan humidifier
3. Mengecek flow meter, humidifier dan air pada tabung humidifier
4. Menghubungkan selang nasal kanul/ masker/ kanul pada tabung oksigen
5. Mengontrol apakah peralatan berfungsi
A. CARA PEMBERIAN NASAL KANUL
1. Membuka aliran oksigen untuk menetukan
Kecepatan antara 1-5 liter/menit (sesuai program terapi)
2. Memasukan nasal kanule ke dalam lubang hidung pasien
3. Memfiksasi dan mempeertahankan selang oksigen cukup kendur
4. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
5. Mengantur aliran O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan aliran oksigen sesuai promgam terapi dan membersihkan nasal kanule setiap 8 jam
B. CARA PEMBERIAN MASKER
1. +Memasang an masker pada wajah klien dari hidung ke bawah
2. Mengalasi selang dengan kasa pada karet pingikat telinga dan tulang pipi jika perlu
3. Mengantur aliran oksigen sesuai program terapi (antara 5-8 liter/menit untuk maker sederhana)
4. Mencuci tangan
5. Memeriksa secempatang aliran oksigen sesuai program terapi dan besihkan muka dan masker setiap 8 jam
C. CARA PEMBERIAN NASAL KATETER
1. Memakai handcoen
2. Mengukur panjang nasal kateter
3. Member jeli pada nasal kateter
4. Memasukan secara hati-hati ke dalam hidung
5. Mengantur alirang O2 sesuai program terapi
6. Mencuci tangan
7. Memeriksa kecepatan alirang oksigen sesuai terapi dan menganti kateter minimal 8 jam.
Evaluasi Sikap Bekerja dengan cekatan, hati-hati, teliti
Memperhatikan body mechanism
Menjaga privacy pasien
Konsep teori Secsio caesarea + Plasenta previa + Konsep Nifas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSEP DASAR PLASENTA PREVIA
2.2.1 Definisi
Menurut Nugroho (2010) Plasenta previa yaitu plasenta yang letaknya abnormal, karena plasenta terletak pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostinum uteri internum. Adapun menurut Chalik dalam Prawirohardjo (2009, h. 495) plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah Rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostinum uteri internum.
2.2.2 Klasifikasi Plasenta Previa
Menurut Nugroho, 2012 dikenal 4 klasifikasi dari plasenta previa :
a. Plasenta previa totalis : Plasenta menutupi seluruh ostinum uteri internum
b. Plasenta previa lateralis :Plasenta menutupi sebagian dari ostium uteri intenum
c. Plasenta previa marginalis tepi plasenta berada tepat pada tepi ostinum uteri internum
d. Plasenta letak rendah : Plasenta berada 3 – 4 cm pada tepi ostium uteri internum
2.2.3 Etiologi Plasenta Previa
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belum diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sectio secarea, kerokan, miomektomi dan sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor resiko tinggi bagi terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sectio secarea berperan menaikan insiden dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijumpai insiden plasenta previa lebih tinggi dua kali lipat. Hipoksemia akibat karbon monoksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dari eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Chalik, 2009; hal.496).
2.2.4 Manifestasi Klinis
Menurut Nugroho (2012) manifestasi klinis plasenta previa antara lain:
a. Anamnesa
1) Perdarahan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab
2) Terutama pada multi gravida pada kehamilan setelah 20 minggu
b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasaanya belum masuk pintu atas panggul.
2) Pemeriksaan inspekulo : perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.
2.2.5 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Nugroho, 2012 pada plasenta previa pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah :
a. USG untuk diagnosis pasti yang menentukan letak plasenta
b. Pemeriksaan darah : hemoglobin dan hematokrit.
2.2.6 Penatalaksanaan
Menurut Nugroho, 2012 penatalaksanaan plasenta previa diantara lain:
a. Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi.
b. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk, mengedan karena sulit buang air besar).
c. Pasang infus NaCl fisiologis, bila tidak memungkinkan berikan peroral.
d. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat pendarahan.
e. Bila terjadi renjatan, segera lakukan pemberian cairan dan tranfusi darah.
f. Pengelolaan plasenta previa tergantung dari banyaknya perdarahan, umur kehamilan dan derajat plasenta previa.
g. Jangan melakukan pemeriksaan dalam atau tampon vagina, karena akan memperbanyak perdarahan dan menyebabkan infeksi.
1) Bila usia kehamilan <37 minggu dan TBF <2500 gram
a) Perdarahan sedikit keadaan ibu dan anak baik maka biasanya penanganan konservatif sampai umur kehamilan aterm. Penangan berupa tiring baring, hematinic, antibiotika dan tokolitik bila ada his. Bila selama 3 hari tidak ada perdarahan pasien mobilisasi bertahap. Bila pasien berjalan tetap taka da perdarahan pasien boleh pulang. Pasien dianjurkan agar tidak coitus, tidak bekerja keras dan segera ke rumah sakit jika terjadi perdarahan. Nasihan ini juga dianjurkan bagi pasien yang didiagnosis plasenta previa dengan USG namun tidak mengalami perdarahan.
b) Jika perdarahan banyak dan diperkirakan membahayakan ibu dan janin maka dilakukan resusitasi cairan dan penanganan secara aktif.
2) Bila usia kehamilan >37 minggu/ lebih dan TBF <2500 gram
Pada kondisi ini maka dilakukan penanganan secara aktif yaitu segera mengakhiri kehamilan, baik secara pervaginam atau perabdominal.
a) Persalinan pervaginam diindikasikan pada plasenta previa marginalis, plasenta previa letak rendah dan plasenta previa lateralis dengan pembukaan 4 cm atau lebih.
b) Pada kasus tersebut bila tidak banyak perdarahan maka dapat dilakukan pemecahan kulit ketuban agar bagian bawah anak dapat masuk pintu atas panggul menekan plasenta yang berdarah.
c) Bila his tidak adekuat dapat diberikan pitosin drip. Namun bila perdarahan tetap ada maka dilakukan seksio sesar.
d) Persalinan dengan section caesarea diindikasikan untuk plasenta previa totalis baik janin mati atau hidup, plasenta previa lateralis.
2.2.7 Komplikasi
Ada beberapa komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita plasenta previa, diantaranya ada yang bisa menimbulkan perdarahan yang cukup banyak dan fatal (Prawirohardjo, 2009; hal. 499).
a. Oleh karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok.
b. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen ini yang tipis mudah jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkreta bahkan perkreta. Paling ringan adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi villinya masih belum masuk ke miometrium. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan maternal plasenta mengalami akreta atau inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi resiko retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbulah perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada uterus yang penah seksio sesaria.
c. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Oleh karena itu harus sangat berhati-hati pada semua tindakan manual ditempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang lebih sederhana seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi arteria uterina, ligasi arteria ovarika, pemasangan tampn, atau ligasi arteria hipogastrika, maka pada keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan histerektmi total.
d. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya.
e. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkaan sebagian oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm. Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan amniosintesis untuk mengetahui kematangan paru janin dan pemberian kartikosteroid untuk mempercepat kematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
f. Komplikasi lainnya yaitu solusio plasenta (resiko relatif 13,8), seksio sesaria (RR 3,9), kelainan letak janin (RR2,8), perdarahan post partum (RR 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50%) dan disseminated intravascular coagulation (DIC) 15,9%.
2.2 KONSEP SEKSIO SESAREA (SECTIO CAESAREA)
2.2.1 Pengertian
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Mochtar, 2002; hal. 85). Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim
2.2.2 Indikasi seksio sesarea
Menurut Imam Rasjidi (2009, hal. 88) indikasi seksio sesarea diantara lain:
a. Indikasi mutlak
1) Indikasi ibu
a) Plasenta previa
b) Panggul sempit
c) Bekas seksio sesarea dengan indikasi disproporsi
sevalopelvik
d) Disfungsi uterus
e) Distosia jaringan lunak
2) Indikasi janin
a) Janin sangat besar
b) Gawat janin
c) Letak lintang
d) Presentasi bokong pada primi gravida
e) Double footling breech
b. Indikasi Relatif
1.) Riwayat seksio sesarea
2.) Presentasi bokong
3.) Distosia
4.) Fetal distress
5.) Preeklamsia berat,penyakit kardiovaskuler dan diabetes
6.) Ibu dengan HIV positif sebelum inpartu
7.) Gemeli
c. Indikasi sosial
1.) Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya
2.) Wanita yang ingin seksio sesarea elektif karena takut bayinya mengalami cedera atau asfiksia selama persalinan atau mengurangi resiko keusakan dasar panggul
3.) Wanita yang takut terjadinya perubahab pada tubuhnya atau sexuality image setelah melahirkan
2.2.3 Kontra indikasi
Menurut Imam Rasjidi (2009, hal.89) kontra indikasi seksio sesarea antara lain :
a. Janin mati
b. Syok
c. Anemia berat
d. Kelainan kongenital berat
e. Infeksi piogenik pada dinding abdomen
f. Minimnya fasilitas operasi seksio sesarea
2.2.4 Komplikasi
Klasifikasi seksio sesarea menurut Rustam Mochtar (2002, hal. 87) antara lain :
a. Infeksi peurperal (nifas)
1) Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
2) Sedang,dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
3) Berat, dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik, infeksi berat sering kita jumpai pada partus terlantar, sebelum timbul infeksi nifas
b. Perdarahan, karena
1) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
2) Atonia uteri
3) Perdarahan pada placental bed
c. Luka kandung kemih,emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi
d. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang
2.2.5 Bentuk Operasi Seksio Sesarea
Menurut Amru Sofian, (2012) jenis - jenis operasi seksio sesarea antara lain :
a. Abdomen
Sectio sesarea transperitonealis
b. Vaginalis
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig
2. Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
3. Sayatan huruf T (T-incision)
c. Seksio sesarea klasik (Corporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm. tetapi saat ini teknik ini jarang dilakukan karena memiliki banyak perlengketan organ, cara ini dapat dipertimbangkan.
d. Seksio sesarea ismika (Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transfersal) kira-kira sepanjang 10 cm.
2.2.6 Perawatan Pasca Bedah
Rustam Mochtar (2002, hal.120) memaparkan perawatan pasca bedah antara lain :
a. Penatalaksanaan nyeri
Dalam 24 jam pertama pascaoperasi,pasien akan merasa nyeri sehingga harus diberikan analgesik yang adekuat. Rasa nyeri pada pasien yang mendapat anastesi spinal timbul sejak tungkai bawah mulai dapat digerakkan. Lazimnya, penghilang sakit telah diberikan dalam tetesan infus oleh dokter anestesi,selanjutnya analgetik dapat diberikan diruang rawat.
Penggunaan ketorolac 90 mg sehari, dibagi atas 3 dosis, ditambah ketoprofen supositoria sudah memadai. Ketorolac 10 mg intravena dapat ditambahkan jika pasien masih merasa kesakitan (Mochtar, 2002; hal. 119).
b. Kateterisasi
Pengosongan kandung kemih pada bedah kebidanan per vaginam sama dengan pada persalinan biasa jika tidak ada luka robekan yang luas,untuk mencegah iritasi dan pencemaran luka oleh urin, kandung kemih dikosongkan dengan kateter.
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada pasien, menghalangi involusi uterus, dan menyebabkan perdarahan. Karena itu, dianjurkan pemasangan kateter tetap yang dipasang selama 24-48 jam atau lebih, bergantung pada jenis operasi dan keadaan pasien. Dengan cara tersebut, urin dapat ditampung dan diukur dalam botol plastik secara periodik (Mochtar, 2002; hal. 119).
c. Perawatan lanjutan
Pasien dianjurkan untuk datang kontrol luka pada hari ketujuh atau kedelapan. Kunjungan dilakukan lebih cepat apabila ada hal-hal khusus, seperti nyeri berlebihan, terbukanya perban, atau ada perembesan darah. Vitamin C,B kompleks dapat diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan pasien.
2.3 KONSEP DASAR MASA NIFAS
2.3.1 Definisi Masa Nifas
Masa nifas merupakan sebuah fase setelah ibu melahirkan dengan rentang waktu kira-kira selama 6 minggu. (Bahiyatun, 2009; hal.2). Masa nifas (puerperium) dimulai setelah palsenta keluar setelah alat-alat kandungan kembali normal seperti sebelum hamil. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, secara fisik maupun psikologis. Perubahan tersebut sebenarnya sebagian besar bersifat fisiologis (Purwanti, 2012, hal.1).
2.3.2 Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dimulai 2 jam sesudah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu berikutnya (Bahiyatun, 2009; hal. 2). Menurut Ambarwati dkk (2008), masa nifas dibagi menjadi 3 tahap :
a. Puerperium Dini
Puerperium Dini yaitu, Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan (dalam pandangan islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari)
b. Puerperium Intermedial
Puerperium Intermedial yaitu, Kepulihan menyeluruh organ-organ reproduksi yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote Puerpureum
Remote Puerpureum yaitu, Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahun.
2.3.3 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Semua yang dilakukan, baik dalam bidang kebidanaan maupun di bidang lain selalu mempunyai tujuan agar kegiatan tersebut terarah dan diadakan evaluasi dan penilaian.menurut Bahiyatun (2009) hal. 2 memamparkan, tujuan dari perawatan masa nifas adalah:
a. Memulihkan kesehatan umum penderita
1) Menyediakan makanan sesuai kebutuhan
2) Mengatasi anemia
3) Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan sterilisasi
4) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk memperlancar peredaran darah
b. Mempertahankan kesehatan psikologis
c. Mencegah infeksi dan komplikasi
d. Memperlancar pembentukan air susu ibu (ASI)
e. Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal
2.3.4 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Table kebijakan nasional masa nifas menurut Bahiyatun (2009, hal. 2) menyebutkan paling sedikit empat kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi.
Tabel 2.1 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kunjungan Waktu Tujuan
1. 6-8 jam setelah persalinan a. Mencegah perdarahan masa nifas akibat atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk bila perdarahan berlanjut.
c. Meberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
2. 6 hari setelah persalinan a. Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
c. Memastikan ibu mendapat cukup makan, cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi,tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3. 2 minggu setelah persalinan Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)
4. 6 minggu setelah persalinan a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini
2.3.5 Perubahan Fisiologi
Menurut Anggraeni (2010) perubahan fisiologi pada masa nifas antara lain:
a. Involusio Uterus
Involusi merupakan proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir kala III persalinan, uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilikus.
Segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri (TFU) sekitar pertengahan simfisis pubis dan umbilikus. Setelah 24 jam tonus segmen bawah uterus telah pulih kembali sehingga mendorong fundus keatas memjadi setinggi umbilikus. Pada hari pertama dan kedua TFU satu jari dibawah umbilikus, hari ke 5 TFU setinggi 7 cm, diatas simpisis atau setengah simpisis-pusat, pada hari ke 10 tidak teraba lagi. Fundus turun 1-2 cm setiap 24 jam.
b. Lochea
Lokhea adalah ekskresi rahim selama masa nifas. Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan desidua, mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat.. Pengeluaran lokhea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya sebagai berikut : lokhea rubra pada hari ke 1-3 warna merah kehitaman, sanginolenta pada 4-7 hari warna merah kecoklatan dan berlendir, serosa pada 7-14 hari warna kuning kecoklatan, dan alba pada >14 hari warna putih.
c. Cerviks
Segera setelah post partum bentuk servik agak menganga seperti corong. Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.
d. Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama kedua organ ini berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali pada keadaan tidak hamil dan rugae vagina berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia lebih menonjol. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari keadaan sebelum melahirkan.
e. Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
f. Rahim
Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk merapatkan dinding rahim sehingga tidak terjadi perdarahan, kontraksi ini menimbulkan rasa mulas pada perut ibu.
g. Perubahan sistem pencernaan
Diperlukan 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa sakit didaerah perineum dapat menghalangi keinginan ke belakang.
h. Perubahan sistem perkemihan
Buang air kecil sering sulit selam 24 jam pertama, kemungkinan terdapat spasme sfingter dan adema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta lahir, hormon estrogen yang menahan air menurun, sehingga menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akn kembali normal dalam 6 minggu.
i. Perubahan sistem musculoskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal mencakup hal-hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat gravitasi ibu. Stabilitas sendi lengkap pada minggu ke-6 sampai minggu ke-8 setelah wanita melahirkan. Ambulasi umumnya dimulai 4-8 jam postpartum. Ambulasi dini sangat membantu mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi.
j. Perubahan endokrin
Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam post partum. Progesteron turun pada hari ke 3 post partum. Kadar prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang.
k. Perubahan tanda-tanda vital
Suhu badan pada satu hari (24 jam) postpartum akan naik sedikit (37,50C-380C) sebagai akibat keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Denyut nadi sehabis melahirkan akan lebih cepat. Tekanan darah biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan.
l. Perubahan sistem kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis akibat penurunan estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan hemoglobin kembali normal pada hari ke-5. Plasma darah tidak begiitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.
m. Perubahan hematologi
Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
2.4 ASUHAN KEPERAWATAN
2.4.1 Pengkajian
a. Pengkajian fisik
1.) Kesehatan umum menanyakan bagaimana perasaan ibu
2.) Tanda vital
a.) Suhu
Peningkatan suhu tubuh masa nifas disebabkan oleh dehidrasi akibat keluarnya cairan pada waktu melahirkan. Selain itu disebabkan oleh istirahat dan tidur yang diperpanjang selama awal persalinan. Pengukuran suhu dilakukan pada satu jam pertama setelah melahirkan : sekali jam ke-2 sampai jam ke-8 ; 2 kali jam ke-9 sampai jam ke-24 ; setiap 4 jam 24 jam sampai pulang.Pada umumnya suhu tubuh kembali normal setelah 12 jam post partum (Reeder et al, 2011; hal. 41).
b.) Denyut nadi dan pernapasan
Nadi antara 60 sampai 80 x/menit. Denyut nadi di atas 100 x/menit mengindikasikan adanya infeksi. Pernapasan normal 20 sampai 30 x/menit, beberapa ibu post partum kadang-kadang mengalami bradikardi puerperal, yang denyut nadinya mencapai 40-50 x/menit (Reeder et al, 2011; hal. 41).
c.) Tekanan darah
Pada beberaapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum, tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit lain yang menyertainya dalam 2 bulan pengobatan (Reeder et al, 2011; hal. 41).
3.) Payudara
Pengkajian payudara selama massa pasca post partum meliputi inspeksi ukuran,bentuk, warna, dan kesimetrisan serta palpasi konsitensi dan apakah ada nyeri tekan buna menentukan status laktasi. Pada 1 sampai 2 hari pertama pascapartum payudara tidak banyak berubah kecil kecuali sekresi kolostrom yang banyak. Pada ibu menyusui, saat ASI mulai diproduksi payudara lebuh besar, keras, hangat (Reeder et al, 2011; hal. 45).
4.) Uterus
Kemajuan involusi yaitu proses uterus kembali keukuran kondisina sebelum kehamilan,diukur dengan mengakaji tinggi dan konsistensi fundus uterus (Reeder et al, 2011; hal. 41).
5.) Kandung Kemih
Wanita pascapartum dianjurkan untuk berkemih sesegera mungkin setelah melahirkan guna menghindari distensi kandung kemih. Bahkan dengan kandung kemih yang penuh, wanita yang baru melahirkan mungkin tidak merasakan desakan untuk berkemih. Perawat mengkaji kondisi kandung kemih dengan palpasi dan pengamatan abdomen,tinggi dan konsistensi fundus uterus (Reeder et al, 2011; hal. 43).
6.) Genetalia/perineum
Perawat melakukan pengkajian daerah perinium dan perinatal dengan sering untuk mengidentifikasi karateristik normal atau deviasi dari normal, deperti hematoma ,memar, edema, kemerahan dan nyeri tekan. Jika ada jahitan luka kaji keutuhan, hematoma, perdarahan dan tanda – tanda infeksi (Reeder et al, 2011; hal. 44).
7.) Lochea
Karateristik dan jumlah lokia secara tidak langsung menggambarkan kemajuan penyembuhan endometrium. Pada proses penyembuhan normal, jumlah lokia perlahan – lahan akan berkurang dengan perubahan warna yang khas yang menunjukan penurunan komponen darah dalam area lubra. Pada hari 1 sampai ke 3 lokia berwarna merah gelap, sekitar keempat pascapartum menjadi serosa dan merah muda (lokhea serosa). Setelah 1 minggu sampai 10 hari, lokia menjadi berwarana putih kekuning- kuningan (lokia alba) dengan jumlah yang sangat sedikit (Reeder et al, 2011; hal. 42).
8.) Ekstremitas Bawah
Ekstremitas bawah diamati untuk mendeteksi tanda – tanda tromboflebitis pascapartum, yang merupakan suatu komplikasi yang serius. Pada pengkajian ekstremitas bawah, lakukan pemeriksaan kaki apakah ada varises, warna kemerahan pada betis, atau edema (Reeder et al, 2011; hal. 45).
b. Pengkajian Psikologis
Bahiyatun (2009, hal.116) menyatakan wanita mengalami banyak perubahan emosi atau psikologis selama masa nifas, sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah melahirkan. Depresi tersebut sering disebut sebagai post partum blues. Post partum blues sebagian besar merupakan perwujudan fenomena psikologis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinya. Pada sebagian kasus tidak diperlukan terapi yang efektif, kecuali antisipasi, pemahaman, dan rasa aman. Emosi yang labil ditingkatkan oleh ketidaknyamanan fisik. Post partum blues umumnya terjadi sekitar hari ketiga hingga kelima post partum. Seorang wanita yang mengalami perasaan kehilangan fisik setelah melahirkan dapat menimbulkan duka cita yang bersifat normal.
Tiga tahap duka cita yaitu :
1) Tahap pertama
Syok yang merupakan respon awal individual terhadap kehilangan.
2) Tahap kedua
Vase realitas penerimaan fakta kehilangan.
3) Tahap ketiga
Tahap membuat hubungan baru yang signifikan. Selama periode ini, orang yang berduka cita menerima kehilangan dan individu kembali pada keadaan normal
c. Riwayat Kesehatan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji riwayat kesehatan ibu antara lain:
a) Bagaimana perasaannya, termasuk mood (suasana hati) dan perasaannya menjadi orang tua.
b) Keluhan atau masalah yang sekarang dirasakan.
c) Kesulitan dalam berkemih atau defekasi.
d) Perasaannya tentang persalinan dan kelahiran bayinya.
e) Penjelasan tentang kelahiran: adakah komplikasi, laserasi, episiotomi.
f) Suplemen zat besi : adakah ia mendapat tablet zat besi.
g) Pemberian ASI : apakah berhasil,adakah kesulitan.
d. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari ke-2 sampai hari ke-6 dan minggu ke-2 sampai minggu ke-6 pasca persalinan :
a) Melakukan pemeriksaan tanda vital
b) Melakukan pemeriksaan payudara, periksa apakah terdapat benjolan dan pembesaran kelenjar atau abses, serta keadaan puting.
c) Melakukan pemeriksaan abdomen
d) Melakukan pemeriksaan kaki apakah ada varises, warna kemerahan pada betis, edema
e) Melakukan pemeriksaan genetalia, lochea dan perineum
2.4.2 Diagnosa Keperawatan
Menurut Reeder et al (2011, hal 59) diagnosa keperawatan post partum antara lain:
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, kehilangan darah yang berlebih
2) Nyeri berhubungan dengan adanya kontraksi uterus pasca persalinan, adanya luka insisi post SC
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Nyeri/ ketidaknyamanan
4) Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan diurisis post partum, retensi urine
5) Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
6) Resiko infeksi berhubungan dengan mastitis, endometrtitis, sistisis, luka post sc
7) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah atau laserasi, episiotomi, laserasi.
2.4.3 Intervensi Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, kehilangan darah yang berlebih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan, dengan kriteria hasil : Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan, masukan dan pengeluaran seimbang.
Intervensi :
1.) Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang.
Rasional : dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous return dan memungkinkan darah keotak dan organ lain.
2.) Monitor tanda vital.
Rasional : perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat.
3.) Monitor intake dan output setiap 5 - 10 menit.
Rasional : perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal.
4.) Evaluasi kandung kencing.
Rasional : kandung kencing yang penuh menghalangi kontraksi uterus.
5.) Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis.
Rasional : massage uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri.
6.) Batasi pemeriksaan vagina dan rectum.
Rasional : trauma yang terjadi pada daerah vagina serta rektum meningkatkan terjadinya perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks/perineum atau terdapat hematom
Bila tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat, pasien merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat, segera kolaborasi.
7.) Berikan infus atau cairan intravena.
Rasional : cairan intravena dapat meningkatkan volume intravaskular.
2. Nyeri berhubungan dengan adanya kontraksi uterus pasca persalinan, adanya luka insisi post SC
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri klien berkurang, dengan kriteria hasil : Skala nyeri klien berkurang, wajah klien tampak rileks.
Intervensi :
1.) Beri posisi yang nyaman pada pasien.
Rasional: meningkatkan relaksasi/meminimalkan stimulus.
2.) Berikan kompres hangat di perut klien.
Rasional : vasodilatasi pembuluh darah mengurangi rasa nyeri.
3.) Anjurkan klien tetap untuk menyusui anaknya.
Rasional : mencegah agar payudara tidak bengkak.
4.) Ajarkan tindakan non infasif, seperti relaksasi.
Rasional: menurunkan tekanan vaskuler serebral.
5.) Kolaborasi; Pemberian analgetik.
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Nyeri/ ketidaknyamanan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal, dengan kriteria hasil : penampilan seimbang, melakukan pergerakkan dan perpindahan, mempertahankan mobilitas optimal yang dapat ditoleransi, dengan karakteristik; 0 mandiri penuh, 1 memerlukan alat bantu, 2 memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran, 3 membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu, 4 ketergantungan (tidak berpartisipasi dalam aktivitas)
Intervensi :
1.) Ajarkan dan pantau pasien dalam penggunaan alat bantu
Rasional : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal
2.) Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasien
Rasional : mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
4. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan diurisis post partum, retensi urine.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi retensi urine dengan kriteria hasil : berkemih dalam 6-8 jam,jumlah adekuat,eliminasi urine berlanjut tanpa masalah
Intervensi :
1.) Kaji kandung kemih secara teratur
Rasional : Mengetahui keadaaan urin pada kandung kemih
2.) Anjurkan berkemih pertama kali dalam 6-8 jam
Rasional : Mengurangi urine yang tertampung pada kandung kemih.
3.) Lakukan kateralisasi jika diindikasikan
Rasional : Memberikan solusi agar tidak terjadi pemenuhan pada kandung kemih dan mencegah retensi urine.
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, kebutuhan istirahat tidur terpenuhi dengan kriteria hasil klien tampak segar, klien tidur 7-8 jam per hari
Intervensi :
1.) Kaji pola tidur klien
Rasional : Data awal tanda dan gangguan pola tidur.
2.) Ciptakan suasana yang tenang dengan membatasi pengunjung
Rasional : Memungkinkan menambah kenyamanan klien
3.) Kaji kebiasaaan klien sebelum tidur
Rasional : Mnegidentifikasi penyebab gangguan tidur.
4.) Ajarkan tehnik relaksasi
Rasional : Membantu klien untuk rileks
6. Resiko infeksi berhubungan dengan mastitis, endometrtitis, sistisis, luka post sc
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : lokea tidak berbau dan TTV dalam batas normal.
Intervensi :
1.) Catat perubahan tanda vital.
Rasional : Perubahan tanda vital (suhu) merupakan indikasi terjadinya infeksi.
2.) Catat adanya tanda lemas, kedinginan, anoreksia, kontraksi uterus yang lembek, dan nyeri panggul.
Rasional : tanda-tanda tersebut merupakan indikasi terjadinya bakterimia, shock yang tidak terdeteksi.
3.) Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea.
Rasional : infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lochea yang berkepanjangan.
4.) Perhatikan kemungkinan infeksi di tempat lain, misalnya infeksi saluran nafas, mastitis dan saluran kencing.
Rasional : infeksi di tempat lain memperburuk keadaan.
5.) Berikan perawatan perineal,dan pertahankan agar pembalut
jangan sampai terlalu basah.
Rasional : pembalut yang terlalu basah menyebabkan kulit iritasi dan dapat menjadi media untuk pertumbuhan bakteri,peningkatan
resiko infeksi.
6.) Tindakan kolaborasi.
a.) Berikan zat besi (anemi memperberat keadaan).
b.) Beri antibiotika (pemberian antibiotika yang tepat diperlukan untuk keadaan infeksi)
7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah atau laserasi, episiotomi, laserasi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kulit utuh, dengan kriteria hasil : kulit sembuh,dan tidak terjadi tanda-tanda infeksi
Intervensi :
1) Observasi integritas kulit
Rasional : Mengetahui keadaaan kulit
2) Lakukan medikasi desngan teknik steril
Rasional : Menjaga agar kulit tetap bersih dan tidak terjadi infeksi
3) Ajarkan pada klien untuk menjaga agar luka tetap bersih dan kering
Rasional : Penyembuhan luka bergantung pada keadaan yang bersih
4) Identifikasi adanya tanda – tanda infeksi
Rasional : Untuk menentukan intervensi yang tepat.
2.4.4 Implementasi Keperawatan.
Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya:
Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, keterampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien.
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien, (Doengoes, 1999).
2.4.5 Evaluasi Keperawatan.
Evaluasi keperawatan merupakan langkah terakhir dalam proses keperawattan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang di lakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya, (Doengoes, 1999).
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, E & Wulandari, D. (2010). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Nuha Medika
Amin, Hardhi. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC NOC. Yogyakarta : Media Action.
Anggraeni, Y. (2010). Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta; Pustaka Rihama
Arif, Muttaqin, (2012). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta : FIP. IKIP.
Asih, Niluh Gede Yasmin. (2003). Keperawatan Medikal Bedah Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Bahiyatun. (2009). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC
Brashers, Valentina L. (2007). Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan dan Manajemen Edisi 2. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Chalik, T.M.A. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka Prawirohardjo.
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Engram, Barbara. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Hidayat, Azis Alimul. (2008). Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, W. (2013). Informasi Spesialis Obat Indonesia Vol48, Jakarta : PT. ISFI
Kemenkes RI. (2015). Kesehatan Dalam Kerangka Sustainable Development Goals. Jakatra.
Liu, D. (2008). Manual Persalinan Edisi 3, ahli bahasa Meiliya, (ed) Ayu. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Manuaba, I. (2012). Teknik Operasi Obstetri dan Keluarga Berencana, Jakarta : Trans Info Media
Mochtar, R. (2002). Sinopsis Obstetri : obstetric fisiologi, obstetric patologi. Jakarta : EGC, 2011
Mubarak, W & Chayati, N. (2008). Buka Ajar Kebutuhan Manusia Teori & Aplikasi dalam Praktik, Jakarta, EGC
Nazir. (2000). Metode Penelitian. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Nugroho, T. (2010). Kasus Emergency Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika
(2012). Obsgyn Obstetri dan Ginekologi. Yogyakarta : Nuha Medika
Nursalam. (2001). Proses dan Prinsip Keperawatan : Konsep dan Praktik. Jakarta : Salemba Medika.
Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka prawirohardjo.
Rasidji, I. (2009). Manual Seksio Sesarea & Laparotomi Kelainan Adneska. Jakarta : CV Sagung Seto.
Reeder, J, Martin, L & Griffin, D. (2011). Keperawatan Martenitas : Kesehatan Wanita Bayi & Keluarga 18e Vol2, ahli bahasa Afiyanti, Racmawati, Lusyana, Kurnianingsih, Subekti, Yulianti (ed). Mardella, Jakarta, EGC
Reeves, Charlene J. (2001). Buku Satu Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.
Rukiyah, Ai Yeyeh. dkk. (2010). Asuhan Kebidanan (Patologi Kebidanan). Jakarta : Trans Info Media
Rumah Sakit Guido Valadare (HNGV), (2017). Data Rekam Medik. Rumah Sakit Guido Valadares Dili: tidak dipublikasikan.
Smeltzer, S.C., dan Barre, B.G. (1995). Textbook of Medical-Surgical Nursing. 8th ed. Philadelphia : Lippincot
Langganan:
Komentar (Atom)
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
-
https://www.scribd.com/document/366453674/Peng-Kaji-An
-
https://www.scribd.com/document/366450623/Djj