KONSEP TEORI
PENYAKIT PARU OBSTRUKSI AKUT (PPOK)
2.2 Definisi Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
Menurut Irman Somantri (2009), Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah asma bronchial, bronchitis kronis, dan emfisema paru-paru. Sering juga penyakit ini disebut dengan Chroniic Airflow Limitation (CAL) dan Chronic Obstuctive Lung Diseases (COPD).
Sementara itu, menurut Elisabeth J. Corwin (2009), Individu yang mengidap emfisema kronis biasanya juga menderita bronchitis kronis dan memperlihatkan tanda-tanda kedua penyakit. Keadaan ini disebut penyakit paru obstruksi kronik (PPOK, chronic obstructive pulmonary disease). Asma bronchial yang berkaitan dengan emfisema atau bronchitis kronis juga dapat menyebabkan PPOK.
Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik dengan karakteristik adanya hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif no reversibel atau reversible parsial, serta adanya respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang berbahaya, (Gold, 2014).
Dengan demikian, Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM/PPOK) merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan keluar paru. Gangguan yang penting adalah bronkhitis obstruksi, emfisema, dan asma bronkhial. (Arif Muttaqin, 2012).
2.3 Klasifikasi PPOK
Adapun klasifikasi dari PPOK menurut Arif Muttaqin (2012), antara lain :
1. Bronkhitis Kronik
Bronkitis kronik merupakan gangguan klinis yang ditandai dengan pembentukan mukus yang berlebihan dalam bronkus dan dimanifestasikan dalam bentuk batuk kronis serta membentuk sputum selama 3 bulan dalam setahun, minimal 2 tahun berturut-turut.
2. Emfisema paru
Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan anatomi parenkim paru yang ditandai dengan pelebaran dinding alveolus, duktus alveolar, dan destruksi dinding alveolar.
3. Asma bronkhial
Asma bronkhial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan tanggapan reaksi yang meningkat dari trachea dan bronkhus terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernapas yang disebabkan oleh penyempitan menyeluruh dari saluran pernapasan
2.4 Etiologi PPOK
Penyebab PPOK dijabarkan berdasarkan klasifikasinya, antara lain :
1. Bronchitis kronik
Bronchitis kronik disebabkan oleh :
1) Infeksi, seperti Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus, Haemophilus influenza.
2) Alergi
3) Rangsangan seperti asap yang berasal dari pabrik, kendaraan bermotor, rokok, dan lain-lain. (Irman Somantri, 2009).
2. Emfisema paru
Emfisema paru disebabkan oleh :
1) Merokok
Merokok merupakan penyebab utama emfisema. Terdapat hubungan erat antara merokok dan penurunan volume ekspansi paksa (FVE).
2) Keturunan
Belum diketahui jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak pada emfisema kecuali pada penderita dengan defisiensi enzim alfa 1-antripsin. Kerja enzim ini menetralkan proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru, karena itu kerusakan jaringan lebih jauh dapat dicegah. Defiseiensi alfa 1-antitripsin adalah suatu kelainan yang diturunkan secara autosom resesif. Orang yang sering menderita emfisema paru adalah penderita yang memiliki gen S atau Z,. Emfisema paru akan lebih cepat timbul bila penderita tersebut merokok.
3) Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan kerusakan paru leibuh hebat sehingga gejala-gejala pun menjadi lebih berat. Infeksi slauran pernapasan atas pada seorang penderita bronchitis kronik hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, dan menyebabkan kerusakan paru bertambah. Eksaserbasi bronchitis kronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus, yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri.
4) Hipotesis Elastase –Antielastase
Di dalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitikk elastase dan antielastase agar tidak terjadi kerusakan jaringan. Perubahan keseimbangan antara keduanya akan menimbulkan kerusakan pada jaringan elastic paru. Struktur paru akan berubah dan timbullah emfisema. Sumber elastase yang penting adalah pancreas, sel-sel PMN, dan makrofag alveolar (pulmonary alveolar macrophage-PAM). Rangsangan pada paru antara lain oleh asap rokok dan infeksi menyebabkan elastase bertambah banyak. Aktivitas sistem antielastase, yaitu sistem anzim alfa 1-protease-inhibitor terutama enzim alfa-1antitripsin menjadi menurun. Akibat yang ditimbulkan karena tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan antielastase akan menimbulkan kerusakan jaringan elastic paru dan kemudian emfisema. (Arif Muttaqin, 2012).
3. Asma bronchial
Faktor pencetus serangan asma bronchial, antara lain :
1) Allergen
Allergen adalah zat-zat tertentu yang bila dihisap atau dimakan dapat menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, spora, jamur, bulu kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut, dan sebagainya.
2) Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran pernapasan terutama disebabkan virus. Virus influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma bronchial.
3) Tekanan jiwa
Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma, karena banyak orang yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma bronchial. Faktor ini berperan mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak lebil kepribadiannya.
4) Olahraga/kegiatan jasmani yang berat
Sebagian penderita bronchial akan mengalami serangan asma bila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Leri cepat dan bersepeda adlah dua jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan asma.
5) Obat-obatan
Beberapa klien dengan asma bronchial sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti penisilin, salisilat, beta blocker, kodein, dan sebagainya.
6) Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik/kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
7) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang menyumbang 2-15% klien dengan asma bronchial. (Arif Muttaqin, 2012).
2.5 Manifestasi Klinis
Batuk merupakan keluhan pertama yang biasanya terjadi pada pasien PPOK. Batuk bersifat produktif, yang pada awalnyahilang timbul, lalu kemudian berlangsung lama dan sepanjang hari batuk disertai dengan produksi sputum. yang pada awalnya sedikit dan mungkin kemudian berubah menjadi banyak dan purulen, sering dengan semakin bertambah parahnya batuk penderita.
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut meliputi:
1. Batuk bertambah berat.
2. Produsi sputum bertambah.
3. Sputum berubah warna.
4. Sesak nafas bertambah berat.
5. Bertambahnya keterbatasan aktivitas .
6. Terdapat gagal nafas akut pada gagal nafas kronis
7. Penurunan kesadaran.(Nazir.2000.)
Sementara itu menurut Hidya, Aziz Alimul, (2013). Tanda dan gejala PPOK terdiri dari :
1. Batuk
2. Sesak napas.
3. Merokok.
4. Polusi udara
5. Genetik.
2.6 Pathofisiologi PPOK
Obstruksi jalan napas menyebabkan reduksi aliran udara yang beragam bergantung pada penyakit. Pada bronchitis kronik dan bronkhiolitis, terjadi penumpukan lendir dan sekresi yang sangat banyak sehingga menyumbat jalan napas. Pada emfisema, obstruksi pada pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi akibat kerusakan dinding alveoli yang disebabkan oleh overekstensi ruang udara dalam paru.pada asma, jalan napas bronchial menyempit dan membatasi jumlah udara yang mengalir ke dalam paru. Protokol pengobatan tertentu digunakan dalam semua kelainan ini, meski patofisiologi dari masing-masing kelainan ini membutukan pendekatan spesifik.
PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetic dengan lingkungan. Merokok, polusi udara, dan paparan di tempat kerja (terhadap batubara, kapas, dan padi-padian) merupakan faktor resiko penting yang menunjang terjadinya penyakit ini. Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahun.
PPOK merupakan kelainan dengan kemajuan lambat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan awitan (onset) gejala klinisnya seperti kerusakan fungsi paru. PPOK sering menjadi simptomatik selama tahun-tahun usia baya, tetapi insidennya meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Meskipun aspek-aspek fungsi paru tertentu seperti kapasitas vita (VC) dan volume ekspansi paksa (FEV) menurun sejalan dengan peningkatan usia, PPOK dapat memperburuk perubahan fisiologi yang berkaitan dengan penuaan dan mengakibatkan obstruksi jalan napas misalnya pada bronchitis serta kehilangan daya pengembangan (elastisitas) paru misalnya pada emfisema. Oleh karena itu, terdapat perubahan tambahan dalam rasio ventilasi-perfusi pada klien lansia dengan PPOK/PPOM.
2.1 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic menurut Irman Somantri (2009) adalah sebagai berikut:
1. Chest X-Ray
Dapat menunjukkan hyperinflation paru, flattened diafragma, peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan tanda vascular/bullae (emfisema), peningkatan suara bronkovaskuler (bronchitis), normal ditemukan saat periode remisi (asma).
2. Pemeriksaan Fungsi Paru
Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakahh akibat obstruksi atau restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi, dan mengevaluasi efek dan terapi, misalnya bronkodilator.
3. Total Lung Capacity (TLC)
Meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asma, namun menurun pada emfisema.
4. Kapasitas Inspirasi
Menurun pada emfisema
5. FEV1/FVC
Rasio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasotas vital (FVC) menurun pada bonkhitis dan asma
6. Arterial Blood Gasses (ABGs) / Analisa Gas Darah (AGD)
Menunjukkan proses penyakit kronis, seringkali PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema), tetapi sering kali menurun pada asma, pH normal atau asidosis, alkalosis respiratori ringan sekuner terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asma).
7. Bronkogram
Dapat menunjukkan dilatasi dari bronki saat inspirasi, kolaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema), pembesaran kelenjar mucus (bronchitis).
8. Darah Lengkap
Terjadi peningkatan hemoglobin (emfisema berat) dan eosinofil (asma).
9. Kimia Darah
Alpha 1 antitripsin kemungkinan kurang pada emfisema primer.
10. Sputum Kultur
Untuk menentukan adanya infeksi dan mengidentifikasi pathogen, sedangkan pemeriksaan sitologi digunakan untuk menentukkan penyakit keganasan atau alergi.
11. Electrokardiogram (ECG)
Deviasi aksis kanan, gelombang P tinggi (asma berat), atria distrimia (bronchitis), gelombang P pada leads II, III, dan AVF panjang, tinggi (pada bronchitis dan emfisema), dan aksis QRS vertical (emfisema).
12. Exercise ECG, Stress Test
Membantu dalam mengkaji tingkat disfungsi pernapasan, mengevaluasi keefektifan obat bronkodilator, dan merencanakan/evaluasi program
2.2 Penatalaksanaan Medis PPOK
Intervensi medis bertujuan untuk :
1) Memelihara kepatenan jalan napas dengan menurunkan spasme bronchus dan membersihkan sekret yang berlebihan.
2) Memelihara keefektifan pertukaran gas.
3) Mencegah dan mengobati infeksi saluran pernapasan
4) Meningkatkan tolerasnsi latihan.
5) Mencegah adanya komplikasi (gagal napas akut dan status asmatikus).
6) Mencegah alergi/iritasi jalan napas.
7) Membebaskan adanya kecemasan dan mengobati depresi yang sering menyertai adanya obstruksi.
Manajemen medis yang diberikan berupa :
1) Pengobatan farmakologi;
a) Anti-inflamasi (kortikosteroid, natrium kromolim, dan lain-lain)
b) Bronkodilator : (1) Adrenergic; efedrin, epineperin, dan beta adrenergic agonis selektif. (2) Nonadrenergik; aminofilin, leofilin.
c) Antihistamin
d) Steroid
e) Antiobiotik
f) Ekspektoran
g) Oksigen digunakan 3 L/menit dengan nasal kanul.
2) Higiene Paru
Cara ini bertujuan untuk membersihkan secret dari paru, meningkatkan kerja silia, dan menurunkan resiko infeksi. Dilaksanakan dengan nebulizer, fisioterapi dada, dan postural drainase.
3) Latihan
Bertujuan untuk mempertinggi kebugaran dan melatih fungsi otot skeletal agar lebih efektif. Dilaksanakan dengan jalan sehat.
4) Menghindari bahan iritan
Penyebab iritan jalan napas yang harus dihindari di antaranya asap rokok, dan perlu juga mencegah adanya alergi yang masuk ke tubuh.
5) Diet
Klien sering mengalami kesulitan makan karena adanya dispnea. Pemberian porsi yang kecil namun sering lebih baik daripada makan sekaligus banyak, (Arif Muttaqin, 2012).
2.3 Komplikasi PPOK
1. Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan nilai saturasi oksigen < 85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul sianosis.
2. Asidosis Respiratory.
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala, letargia, dizziness, tachipnea.
3. Infeksi Respiratory.
Infeksi pernapasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4. Gagal Jantung
Terutama koronaria pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
5. Kardiak Distrimia.
Timbul akibat dari hypoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.
6. Status Asmatikus.
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma bronchial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan sering kali tidak berespon terhadap therapy yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher sering kali terlihat, (Amin Hardhi, 2014).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN .
2.4 Pengkajian
Menurut Doengoes (2009), pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisakan, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan klien tersebut. Sementara itu, menurut Irman Somantri (2009), Pengkajian yang dapat dilakukan oleh perawat ketika menghadapii klien dengan gangguan sistem pernapasan meliputi riwayat kesehatan, review sistem (head to toe), dan pengkajian psikososial, dan pengkajian fisik, dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Identitas .
Tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan terakhir, nomor registrasi, perjaan pasien, dan identitas penanggung jawab yang terdiri dari nama, umur jenis kelamin, agama, alamat, pekerjaan, dan hubungan keluarganya.
2. Riwayat kesehatan.
Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi masalah actual yang terjadi saat ini, dan masalah kesehatan di masa yang lalu. Dalam mengkaji klien dan keluarga, perawat berfokus pada manifestasi klinis dari keluhan utama, kejadian yang membuat kondisi sekarang ini, riwayat perawatan terdahulu, riwayat keluarga dan riwayat psikososial.
a. Keluhan Utama
Keluhan utama akan membantu dalam mengkaji pengetahuan klien tentang kondisi saat ini, dan menentukan prioritas intervensi. Keluhan utama yang bisa muncul pada klien gangguan kebutuhan oksigen dan karbondioksida, antara lain batuk, peningkatan produksi sputum, dispnea, hemoptisis, wheezing, stridor, dan chest pain.
1. Batuk (Cough)
Batuk merupakan gejala utama pada klien dengan penyakit sistem pernapasa. Tanyakan berapa lama klien batuk (misalnya 1 minggu, 3 bulan), tanyakan juga apakah batuknya timbul pada waktu yang spesifik (missal pada malam hari atau ketika bangun tidur) atau ada hubungannya dengan aktivitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah batuk yang produksi atau non produktif, kongesti, dan kering.
2. Peningkatan produksi sputum
Sputum merupakan suatu substansi yang keluar bersama dengan batuk atau bersihan tenggorok. Trakeobronkhial tree secara normal memproduksi sekitar tiga ons mucus setiap hari sebagai bagian dari mekanisme pembersihan normal (normal cleansing mechanism). Akan tetapi produksi sputum akibat batuk adalah tidak normal. Lakukan pengkajian terkait warna, konsistensi, bau, dan jumlah dari sputum, karena hal-hal tersebut dapat menunjukkan keadaan patologis. Jika terjadi infeksi, sputum dapatt berwarna kuning atau hijau, sputum yang normal mungkin jernih, putih, atau kelabu. Pada keadaan edema paru, sputum akan berwarna merah muda, mengandung darah, dan dengan jumlah yang banyak.
3. Dispnea
Dispnea merupakan suatu persepsi (perasaan subjektif) klien yang merasa kesulitan bernafas/nafas pendek. Perawat mengkaji tentang kemampuan klien untuk melakukan aktivitas. Contoh ketika klien berjalan apakah mengalami dispnea? Kaji juga kemungkinan timbulnya paroksimal nocturnal dispnea, serta orthopnea, yang berhubungan dengan penyakit paru kronik dan gagal jantung kiri.
4. Hemoptisis
Hemoptsis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan, perawat mengkaji apakah darah tersebut berasal dari paru-paru, pendarahan hidung atau perut. Darah yang berasal dari paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru distimulasi segera oleh refleks batuk. Penyakit yang menyebabkan hemoptisis antara lain bronchitis kronik, bronkiektasis, TB paru, kistik fibrosis, upper airway necrotizing glanuloma, emboli paru, pneumonia, kanker paru, dan abses paru.
5. Nyeri dada (chest pain)
Nyeri dada dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru. Gambaran yang lengkap mengenai nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan nyeri pada pleura, musculoskeletal, kardiak, dan gastrointestinal. Paru-paru tidak mempunyai saraf yang sensiif terhadap nyeri, hal ini berbeda dengan iga, otot, pleura pariental, dan trakeobronkhial tree yang mempunyai hal tersebut. Dikarenakan perasaan nyeri murni adalah subjektif, maka perawat harus menganalisis nyeri berhubungan dengan masalah dan penyebab timbulnya nyeri.
b. Riwayat penyakit masa lalu
Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernapasan klien. Secara umum pertanyaan yang dapat diajukan pada klien adalah sebagai berikut;
1. Riwayat merokok
Merokok sigaret merupakan penyebab penting terjadinya kanker paru-paru, emfisema, dan bronchitis kronik. Semua kondisi tersebut sangat jarang menimpa non perokok. Anamnesis harus mencakup hal-hal tesebut ini.
Usia ketika mulai merokok secara rutin.
Rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari.
Usia ketika melepas kebiasaan merokok.
2. Pengobatan saat ini dan masa lalu
3. Alergi
4. Tempat tinggal
c. Riwayat kesehatan keluarga
Sekurang-kurangnya ada tiga alasan yang mengharuskan perawat menanyakan riwayat kesehatan keluarga, dan riwayat social klien pada penyakit paru-paru yaitu sebagai berikut.
1. Penyakit infeksi tertentu
Khususnya tuberculosis, ditularkan melalui satu orang ke orang lainnya. Oleh karena itu, dengan menanyakan riwayat kontak dengan orang terinfeksi dapat diketahui sumber penularnya.
2. Kelainan alergis, seperti asma bronchial, menunjukkan suatu predisposisi keturunan tertentu. Selain itu, sedangkan asma dicetuskan oleh konflik keluarga atau kenalan dekat.
3. Klien bronchitis kronik mungkin bermukim di daerah yang berpolusi udaranya tinggi. Namun, polusi udara tidak menjadi penyebab timbulnya bonkitis kronik, hanya memperburuk pernyakit tersebut.
3. Pengkajian Fisik (Head to toe)
Menurut Douglas, yang dikutip Arif Muttaqin (2012), Pemeriksaan kesehatan pada sistem pernapasan meliputi pemeriksaan fisik umum per sistem dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone), serta pemeriksaan fokus ada di B1 dengan pemeriksaan menyluruh pada sistem pernapasan.
Keadaan Umum
Pemeriksaan fisik keadaan umum di mulai dengan pengukuran tanda-tanda vital meliputi nadi, suhu tubuh, tekana darah, dan frekuensi pernapasan. Keadaan umum pada klien dengan gangguan sistem pernapasan dapat dilakukan selintas pandang dengan menilai keadaan fisik tiap bagian tubuh, perlu dinilai secara umum kesadaran klien apakah compos mentis, apatis, somnolen, spoor, soporokoma, atau koma, dan pengukuran GCS.
B1 (Breathing)
a. Inspeksi
1. Pemeriksaan dada dimulai dari thorak posterior, klien pada posisi duduk.
2. Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
3. Tindakan dilakukan dari atas (apeks) sampai ke bawah.
4. Inspeksi thorak posterior, meliputi warna kulit dan kondisinya, skar, lesi, massa, dan gangguan tulang belakang, seperti kifosis, skoliosis, dan lordosis.
5. Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
6. Observasi tiper pernapasan, seperti pernapasan hidng atau pernapasan diafragma, dan penggunaan otot bantu pernapasan.
7. Saat mengobservasi resprasi, catat durasi dari fase insipirasi (I) dan fase ekspirasi (E). rasio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan napas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL) / Chronik Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
8. Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/tranversal (T). Rasio ini normalnya berkisar 1 : 2 sampai 5 : 7, bergantung pada cairan tubuh klien.
9. Kelainan pada bentuk dada
Bureel Chest
Timbul akibat terjadinya overiflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP : T (1 : 1), sering terjadi pada klien emfisema.
Funnel Chest (Pectus Excavatum)
Timbul jika terjadi depresi pada bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang akan menimbulkan suara murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan’s syndrome, atau akibat kecelakaan kerja.
Pigeon Chest (Pectus Carinatum)
Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kifoskoliosis berat.
Kifoskoliosis (Kyphoscoliosis)
Ditunjukkan dengan adanya elevasi skapula. Deformitas ini akan mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kesulitan musculoskeletal lain yang mempengaruhi torak.
- Kifosis yaitu meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan klien tampak bungkuk.
- Skoliosis yaitu melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.
b. Palpasi
1. Dilakukan untuk mengkaji kesimetrian pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan mengetahui vocal/tactile premitus (vibrasi).
2. Palpasi torak untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa, lesi, bengkak.
3. Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.
4. Vocal premitus, yaitu getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.
c. Perkusi
Perkusi adalah mengetuk struktur tubuh untuk menghasilkan suara. Terdapat dua teknik perkusi untuk region torak.
1. Perkusi langsung, yaitu pemeriksa memukul torak klien dengan bagian palmar jari tengah atau keempat ujung jari tangannya yang dirapatkan.
2. Perkusi tak langsung, yakni pemeriksa menempelkan suatu objek padat yang disebut pleksimeter (biasanya satu jari tengah) pada dada klien, lalu sebuah objek lain yang disebut pleksor (jari tengah lainnya) untuk memukul pleksimeter tadi, sehingga menimbulkan suara.
Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada di sekitarnya, dan pengembangan (ekskursi) diafragma. Berikut akan dijelaskan berbagai jenis suara perkusi.
• Suara Perkusi Normal
a) Resonan : Bergiang, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru (Sonor) normal.
b) Dulnes : Bunyi yang pendek serta lemah, ditemukan di atas
bagian jantung, mamae, dan hati.
c) Timpani : Musikal, bernada tinggi dihasilkan di atas perut yang
berisi udara.
• Suara Perkusi Abnormal
a) Hiperresonan : Bergaung lebih rendah dibangingkan dengan
(Hipersonor) resonan dan timbul pada bagian paru yang berisi
udara.
b) Flatness : Sangat dullness. Oleh karena itu, nadanya lebih
tinggi. Dapat didengar pada perkusi daerah hati,
di mana areanya seluruhnya berisi jaringan.
d. Auskultasi
1. Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan bunyi napas normal, bunyi napas tambahan (abnormal), dan suara.
2. Suara napas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan napas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih.
3. Suara napas normal meliputi bronkial, bronkovesikuler, dan vesikular.
Bronkial.
Sering juga disebut tubular sound karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dan dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti di antara kedua fase tersebut. Normal terdengar di atas trakea atau daerah suprasternal notch.
Bronkovesikuler
Meerupakan gabungan dari suara napas bronkial dan vesicular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah torak di mana bronki tertutup oleh dinding dada.
Vesicular
Terdengar lembut, halus seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang daari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.
Suara napas tambahan meliputi wheezing, ronchi, pleural friction rich, dan crackles.
Wheezing
Terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring, musikal, suara terus-menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan napas yang menyempit.
Ronchi
Terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, dan suara mengorok terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan produksi sputum.
Pleural Friction Rich
Terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara kasar, berciut, suara seperti gesekan akibat dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali klien juga mengalami nyeri saat bernapas dalam.
Crackles
a) Fine crackles
Lebih sering terdengar saat inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah-patah akibat udara melewati daerah yang lembab di daerah alveoli dan bronkiolus. Suara seperti rambut yang digesekkan.
b) Coarse cracles
Lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara lemah, kasar, suara gesekan terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan napas yang besar. Mungkin akan berubah ketika klien batuk. (Irman Somantri, 2009).
2.5 Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan. (Boedihartono, 2007). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan penyakit PPOK meliputi :
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan sekresi, peningkatan pernapasan, dan proses penyakit.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi, akumulasi sekret jalan napas, dan menurunnya kemampuan batuk efektif.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan proses penyakit
4. Resiko tinggi infeksi pernapasan (pneumonia) yang berhubungan dengan akumulasi sekret jalan napas dan menurunnya kemampuan batuk efektif.
5. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidaseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan tubuh akan oksigen
7. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurangnya sosialisasi, kecemasan, depresi, tingkat aktivitas rendah, dan keetidakmampuan untuk bekerja.
8. Kurangnya pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan dilakukan di rumah.
2.6 Intervensi Keperawatan.
Intervensi atau rencana asuhan keperawatan merupakan kerangka dan arah dalam tahap pelaksanaan untuk menentukan kebutuhan pasien berdasarkan masalah yang dihadapi. Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga (3) langkah yaitu: Menentukan tujuan, Menentukan rencana tindakan dan kriteria hasil yang diterapkan serta mengidentifikasi tindakan keperawatan yang tepat untuk mencapai tujuan (Mayer, 2008).
Adapun Intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan penyakit PPOK menurut NANDA NIC-NOC 2013, antara lain :
No Diagnosa Keperawatan / Masalah Kolaborasi Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan Pertukaran gas
Berhubungan dengan :
Ketidakseimbangan perfusi ventilasi
Perubahan membrane kapiler-alveolar
DS:
- Sakit kepala ketika bangun
- Dyspnoe
- Gangguan penglihatan
DO:
- Penurunan CO2
- Takikardi
- Hiperkapnia
- Keletihan
- Iritabilitas
- Hypoxia
- Kebingungan
- Sianosis
- Warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
- Hipoksemia
- Hiperkarbia
- AGD abnormal
- pH arteri abnormal
- Frekuensi dan kedalaman nafas abnormal NOC:
Respiratory Status : Gas exchange
Keseimbangan asam Basa, Elektrolit
Respiratory Status : ventilation
Vital Sign Status
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ….
Gangguan pertukaran
pasien teratasi dengan
Kriteria hasil:
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
Tanda tanda vital dalam rentang normal
AGD dalam batas normal
Status neurologis dalam batas normal NIC :
1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2) Pasang mayo bila perlu
3) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
4) Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
5) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
6) • Berikan bronkodilator ;
-………………….
-………………….
7) Barikan pelembab udara
8) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
9) Monitor respirasi dan status O2
10)Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
11)Monitor suara nafas, seperti dengkur
12)Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
13)Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
14)Monitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
15)Observasi sianosis khususnya membrane mukosa
16)Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction, Inhalasi)
17)Auskultasi bunyi jantung, jumlah, irama dan denyut jantung
2. Bersihan Jalan Nafas tidak
efektif berhubungan dengan:
Infeksi, disfungsi neuromuskular, hyperplasia dinding bronkus, alergi jalan nafas, asma, trauma
Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.
DS:
- Dispneu
DO:
- Penurunan suara nafas
- Orthopneu
- Cyanosis
- Kelainan suara nafas (rales,
wheezing)
- Kesulitan berbicara
- Batuk, tidak efektif atau tidak ada
- Produksi sputum
- Gelisah
- Perubahan frekuensi dan
irama nafas NOC:
Respiratory status Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Aspiration Control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama
…………..pasien
menunjukkan keefektifan
jalan nafas dibuktikan
dengan Kriteria Hasil :
- Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips)
- Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
- Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang penyebab.
- Saturasi O2 dalam batas normal
- Foto thorak dalam
batas normal NIC:
1) Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning.
2) Berikan O2 ……l/mnt, metode………
3) Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
4) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
5) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6) Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
7) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8) Berikan bronkodilator :
- ………………………
- ……………………….
- ………………………
9) Monitor status hemodinamik
10) Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
11) Berikan antibiotik :
- …………………….
- …………………….
12) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
13) Monitor respirasi dan status O2
14) Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret
15) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan peralatan : O2, Suction, Inhalasi.
3. Gangguan pola tidur
berhubungan dengan:
Psikologis : usia tua, kecemasan, agen biokimia, suhu tubuh, pola aktivitas, depresi, kelelahan, takut, kesendirian.
Lingkungan : kelembaban, kurangnya privacy/control tidur, pencahayaan, medikasi (depresan, stimulan),kebisingan.
Fisiologis : Demam, mual, posisi, urgensi urin, dispnea.
DS:
- Bangun lebih awal/lebih lambat
- Secara verbal menyatakan tidak fresh sesudah tidur
DO :
- Penurunan kemampuan fungsi
- Penurunan proporsi tidur REM
- Penurunan proporsi pada tahap 3 dan 4 tidur.
- Peningkatan proporsi pada tahap 1 tidur
- Jumlah tidur kurang dari normal sesuai usia NOC:
Anxiety Control
Comfort Level
Pain Level
Rest : Extent and
Pattern
Sleep : Extent ang
Pattern
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama …. gangguan
pola tidur pasien teratasi
dengan Kriteria hasil:
- Jumlah jam tidur
dalam batas normal
- Pola tidur,kualitas
dalam batas normal
- Perasaan fresh sesudah tidur/istirahat
- Mampu mengidentifikasi halhal yang meningkatkan tidur NIC :
Sleep Enhancement
1) Determinasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur
2) Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
3) Fasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca)
4) Ciptakan lingkungan yang nyaman
5) Kolaborasi pemberian obat tidur
4. Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :
Prosedur Infasif
Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
Malnutrisi
Peningkatan paparan lingkungan patogen
Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan respon inflamasi)
Penyakit kronik
Imunosupresi
Pertahan primer tidak
adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan, gangguan
peristaltik) NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama…… pasien tidak mengalami infeksi dengan Kriteria hasil:
- Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
- Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
- Jumlah leukosit dalam
batas normal
- Menunjukkan perilaku
hidup sehat
- Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria dalam
batas normal NIC :
1) Pertahankan teknik aseptif
2) Batasi pengunjung bila perlu
3) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
4) Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
5) Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
6) Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
7) Tingkatkan intake nutrisi
8) Berikan terapi antibiotik:.................................
9) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
10) Pertahankan teknik isolasi k/p
11) Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
12) Monitor adanya luka
13) Dorong masukan cairan
14) Dorong istirahat
15) Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
16) Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
Berhubungan dengan :
Ketidakmampuan untuk
memasukkan atau mencerna
nutrisi oleh karena faktor
biologis, psikologis atau
ekonomi.
DS:
Nyeri abdomen
Muntah
Kejang perut
Rasa penuh tiba-tiba
setelah makan
DO:
Diare
Rontok rambut yang
berlebih
Kurang nafsu makan
Bising usus berlebih
Konjungtiva pucat
Denyut nadi lemah NOC:
Nutritional status: Adequacy of nutrient
Nutritional Status : food
and Fluid Intake
Weight Control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
selama….nutrisi kurang
teratasi dengan indikator:
- Albumin serum
- Pre albumin serum
- Hematokrit
- Hemoglobin
- Total iron binding
capacity
- Jumlah limfosit NIC:
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
3) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
4) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
5) Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
6) Monitor lingkungan selama makan
7) Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
8) Monitor turgor kulit
9) Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
10) Monitor mual dan muntah
11) Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
12) Monitor intake nuntrisi
13) Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi
14) Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan.
15) Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan
16) Kelola pemberan anti emetik:.....
17) Anjurkan banyak minum
18) Pertahankan terapi IV line
19) Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval
6. Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan :
Tirah Baring atau imobilisasi
Kelemahan menyeluruh
Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
Gaya hidup yang dipertahankan.
DS:
- Melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
- Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.
DO :
- Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
- Perubahan ECG : aritmia, iskemia NOC :
Self Care : ADLs
Toleransi aktivitas
Konservasi energi
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ….
Pasien bertoleransi terhadap
aktivitas dengan
Kriteria Hasil :
- Berpartisipa dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
- Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
- Keseimbangan aktivitas dan istirahat
NIC :
1) Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
2) Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan
3) Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
4) Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
5) Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)
6) Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
7) Kolaborasikan dengan Tenaga
8) Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.
9) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
10) Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial
11) Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
12) Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
13) Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai
14) Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
15) Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
16) Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
17) Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
18) Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual
7. Kurang Pengetahuan
Berhubungan dengan :
keterbatasan kognitif,
interpretasi terhadap
informasi yang salah,
kurangnya keinginan untuk
mencari informasi, tidak
mengetahui sumber-sumber
informasi.
DS:
- Menyatakan secara verbal adanya masalah
DO:
- Ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai NOC:
Kowlwdge : disease
process
Kowledge : health Behavior
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ….
pasien menunjukkan
pengetahuan tentang
proses penyakit dengan
kriteria hasil:
- Pasien dan keluarga
Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
- prognosis dan program
pengobatan
- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
- Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya NIC :
1) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
2) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
6) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7) Sediakan bagi keluarga informasi
8) tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
9) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
10) Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
11) Eksplorasi kemungkinan sumber
8. Kecemasan berhubungan
dengan
Faktor keturunan, Krisis
situasional, Stress, perubahan
status kesehatan, ancaman
kematian, perubahan konsep
diri, kurang pengetahuan dan
hospitalisasi
DS:
- Pasien mengungkapkan secara verbal bahwa belum tahu dan paham tentang kondisi prognosis penyakitnya.
DO:
- Insomnia
- Kontak mata kurang
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Nyeri perut
- Penurunan TD dan denyut nadi
- Diare, mual, kelelahan
- Gangguan tidur
- Gemetar
- Anoreksia, mulut kering
- Peningkatan TD, denyut nadi, RR
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi NOC :
Kontrol kecemasan
Koping
Setelah dilakukan asuhan
selama ……………klien
kecemasan teratasi dgn
Kriteria hasil:
- Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
- Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas
- Vital sign dalam batas normal
- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan. NIC :
Anxiety Reduction (penurunan
kecemasan)
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
5) Berikan informasi factual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
6) Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
7) Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
8) Dengarkan dengan penuh perhatian
9) Identifikasi tingkat kecemasan
10) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
12) Kelola pemberian obat anti cemas:........
2.7 Implementasi Keperawatan.
Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya:
Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, keterampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien.
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien. (Budianna keliat 1994,4).
2.8 Evaluasi Keperawatan.
Evaluasi keperawatan merupakan langkah terakhir dalam proses keperawattan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang di lakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Muttaqin, (2012). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
Asih, Niluh Gede Yasmin. (2003). Keperawatan Medikal Bedah Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Brashers, Valentina L. (2007). Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan dan Manajemen Edisi 2. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Corwin, Elizabet J. (2009). Buku Saku PATOFISIOLOGI. Ed. Revisi. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Engram, Barbara. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
Hidayat, Azis Alimul. (2008). Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Irman Somantri. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika : Jakarta
Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.
NANDA NIC-NOC. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan. Jilid 1 dan 2. Penyusun dan Alih Bahasa Huda Nurarif dan Hardhi Kusuma. Jakarta : Med Action.
Reeves, Charlene J. (2001). Buku Satu Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, S.C., dan Barre, B.G. (1995). Textbook of Medical-Surgical Nursing. 8th ed. Philadelphia : Lippincot
Syaifuddin. (2010) Atlas Berwarna Tiga Bahasa Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan. Salemba Medika : Jakarta
(2011). Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan.Jilid 2. Salemba Medika : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar